Permasalahan pengelolaan sampah organik masih menjadi tantangan bagi masyarakat RT 45, Kelurahan Karang Joang, Kota Balikpapan. Keterbatasan pelayanan pengelolaan persampahan serta belum tersedianya Tempat Penampungan Sementara (TPS) menyebabkan sebagian besar masyarakat memilih membakar sampah rumah tangga sebagai solusi praktis. Selain untuk mengurangi volume sampah, praktik ini juga dilakukan untuk mengurangi gangguan lingkungan seperti meningkatnya keberadaan nyamuk di sekitar permukiman. Kondisi ini diperparah oleh akses menuju TPS terdekat yang relatif jauh, yaitu sekitar 9,3 km dengan waktu tempuh minimal 12 menit. Jarak tersebut menjadi salah satu hambatan utama bagi masyarakat dalam mengelola sampah.

Gambar 1. Jarak TPS Terdekat Masyarakat RT 45
Berdasarkan hasil observasi lapangan, sampah yang dihasilkan masyarakat didominasi oleh sampah organik seperti daun kering, ranting, dan sisa dapur rumah tangga. Namun, sebagian besar sampah tersebut masih dibakar tanpa melalui proses pemilahan maupun pengolahan. Praktik pembakaran terbuka tidak hanya mencemari udara, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikel berbahaya.

Gambar 2. Aktivitas Pembakaran Sampah oleh Masyarakat
Selain persoalan sampah, kondisi lingkungan RT 45 juga masih minim vegetasi sehingga kawasan permukiman terasa gersang dan panas, terutama pada siang hari. Padahal, sampah organik yang melimpah sebenarnya dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung penghijauan lingkungan sekaligus mengurangi volume sampah yang dibakar. Menanggapi kondisi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melaksanakan program pelatihan pengomposan VOC (Volume Organic Composting) sebagai upaya mengurangi praktik pembakaran sampah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik secara ramah lingkungan.
Metode VOC dipilih karena sesuai dengan kondisi masyarakat RT 45 yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah cukup besar. Dibandingkan dengan praktik pembakaran sampah, metode ini lebih ramah lingkungan karena mampu mengurangi pencemaran udara sekaligus mengubah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat. Proses pengomposan VOC juga relatif sederhana, tidak memerlukan teknologi maupun peralatan yang rumit, serta dapat diterapkan secara komunal oleh masyarakat. Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman pekarangan maupun penghijauan lingkungan, sehingga tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang atau dibakar, tetapi juga mendukung terciptanya kawasan permukiman yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.

Gambar 3. Cara Kerja Komposter
Cara kerja komposter diawali dengan pemilahan sampah organik di tingkat rumah tangga. Sampah yang telah dipisahkan kemudian dicacah agar ukurannya lebih kecil sehingga proses penguraian berlangsung lebih cepat. Selanjutnya sampah dimasukkan ke dalam komposter secara bertahap dengan memperhatikan keseimbangan antara bahan basah dan bahan kering. Selama proses pengomposan, cek isi komposter secara berkala sebanyak dua hingga tiga kali dalam seminggu untuk menjaga sirkulasi udara, sementara kelembaban bahan terus dipantau agar tidak terlalu basah maupun terlalu kering. Dalam waktu sekitar tiga hingga empat minggu, sampah organik akan berubah menjadi kompos yang matang dengan tekstur remah, berwarna gelap, dan tidak berbau.
Proses Pembuatan dan Implementasi
Pelaksanaan program diawali dengan koordinasi bersama Ketua RT 45 dan masyarakat untuk memperkenalkan tujuan kegiatan sekaligus mengidentifikasi permasalahan pengelolaan sampah organik di lingkungan setempat. Pada tahap ini, tim pengabdian ITK menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan sebagai alternatif pengganti praktik pembakaran sampah yang selama ini dilakukan warga. Setelah proses sosialisasi, tim melakukan pemetaan kondisi lingkungan dengan mengidentifikasi sumber timbulan sampah organik, kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah, serta menentukan lokasi yang paling sesuai untuk pembangunan fasilitas pengomposan komunal. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar dalam penentuan lokasi penempatan unit komposter VOC agar mudah dijangkau oleh masyarakat. Fungsi utama komposter VOC adalah mengolah sampah organik rumah tangga, seperti sisa makanan, daun kering, dan ranting kecil, menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan adanya komposter ini, sampah organik tidak lagi dibakar, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat bagi lingkungan dan tanaman.
Tim pengabdian membangun satu unit komposter Volume Organic Composting (VOC) menggunakan bahan yang sederhana dan mudah diperoleh di pasaran, seperti wadah berkapasitas besar yang dimodifikasi sebagai tempat proses pengomposan. Komposter tersebut dirancang agar memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga proses penguraian sampah organik dapat berlangsung lebih cepat. Desainnya yang sederhana juga memungkinkan masyarakat membuat atau memperbanyak unit komposter secara mandiri apabila dibutuhkan di kemudian hari. Proses pembuatan dimulai dengan penentuan titik lubang pada drum, yang meliputi lubang atas sebagai ventilasi gas, lubang bawah sebagai saluran cairan lindi, serta lubang samping sebagai akses utama pengisian sampah organik dengan diameter sekitar 4 inci. Seluruh titik kemudian ditandai menggunakan spidol agar proses pelubangan lebih presisi.

Gambar 4. Penentuan Titik Lubang Pada Drum
Tahap berikutnya adalah pelubangan drum menggunakan hole saw sesuai ukuran fitting, kemudian permukaan dibersihkan dari sisa serpihan plastik. Lubang utama selanjutnya dipasangi septic tank connector 4 inci sebagai jalur masuk sampah organik, lalu diperkuat dengan sealant agar sambungan rapat dan tidak bocor.

Gambar 5. Pelubangan Drum dengan Holesaw
Setelah itu, pipa PVC berukuran 3/4 inci dipotong dan dirakit sesuai desain yang terdiri dari pipa vertikal, horizontal, serta sambungan elbow dan tee. Rangkaian pipa ini terlebih dahulu disusun tanpa lem untuk memastikan kesesuaian bentuk, sebelum akhirnya direkatkan secara permanen menggunakan lem PVC.

Gambar 6. Perakitan Pipa
Pada bagian bawah drum dipasang saluran penampungan pupuk cair, sedangkan pada bagian atas dipasang saluran ventilasi gas untuk menjaga sirkulasi udara agar proses fermentasi tetap stabil dan dipasang saringan untuk memisahkan antara pupuk padat dan pupuk cair.

Gambar 7. Pemasangan Saringan
Setelah seluruh sistem terpasang, dilakukan uji kebocoran dengan mengisi air ke dalam drum. Apabila ditemukan rembesan, dilakukan penguatan tambahan menggunakan sealant hingga sistem benar-benar rapat. Hasil akhir dari proses ini adalah komposter berbasis drum yang sederhana namun efektif, dengan sistem pengisian, ventilasi, dan pembuangan cairan yang terintegrasi untuk mendukung pengolahan sampah organik menjadi kompos secara optimal.

Gambar 8. Alat Komposter Final
Pada akhir kegiatan, tim pengabdian Institut Teknologi Kalimantan (ITK) tidak hanya menyerahkan unit komposter kepada masyarakat, tetapi juga memberikan demonstrasi secara langsung mengenai tahapan penggunaan komposter. Masyarakat juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan setiap tahapan secara langsung dengan pendampingan dari tim, sehingga mereka lebih memahami cara pengoperasian alat serta mampu menerapkannya secara mandiri setelah program selesai dilaksanakan.

Antusiasme masyarakat terlihat dari keaktifan peserta selama sesi diskusi dan praktik. Warga mengajukan berbagai pertanyaan mengenai cara menjaga kualitas kompos, mengatasi bau selama proses pengomposan, serta pemanfaatan kompos untuk tanaman di pekarangan. Melalui pelatihan tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman bahwa sampah organik tidak harus dibakar, tetapi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai guna. Diharapkan komposter VOC dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga mampu mengurangi praktik pembakaran sampah sekaligus menghasilkan kompos yang mendukung penghijauan lingkungan RT 45.

Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat:
1. Ummu Kultsum Muhammad, M.P.W.K. (Perencanaan Wilayah dan Kota/JTSP/FPB/ITK) - Ketua
2. Khairunnisa Adhar, S.T., M.Sc (Perencanaan Wilayah dan Kota/JTSP/FPB/ITK)
3. Nurul Maqfirah Rauf, M.Mat. (Matematika/JMTI/FSTI/ITK)
4. Bintang Ghaly Pramudya Aldani (Teknik Logistik/JTIP/FRTI/ITK)
5. Alwi Safari (Teknik Sipil/JTSP/FPB/ITK)
6. Amir Hidayatullah (Teknik Sipil/JTSP/FPB/ITK)
7. Risky Novianto (Teknik Sipil/JTSP/FPB/ITK)
8. Yesa Tedi Wirawan (Teknik Sipil/JTSP/FPB/ITK)
9. Arie Ningrum (Perencanaan Wilayah dan Kota/JTSP/FPB/ITK)
10. Erinda Tiara Putri (Perencanaan Wilayah dan Kota/JTSP/FPB/ITK)
11. Feni Yunitasari (Teknik Logistik/JTIP/FRTI/ITK)
12. Glerian Noel Louis Tijow (Teknik Logistik/JTIP/FRTI/ITK)
13. Joseph Putra Anugrah Sitompul (Teknik Logistik/JTIP/FRTI/ITK)
1. Mitigasi pencemaran udara dan risiko kesehatan akibat praktik pembakaran sampah rumah tangga.
2. Penyediaan teknologi tepat guna (komposter VOC) sebagai alternatif pengolahan sampah organik berbasis masyarakat di tengah keterbatasan layanan persampahan.
3. Pemanfaatan sampah organik menjadi kompos untuk mengurangi volume sampah sekaligus mendukung penghijauan dan peningkatan kualitas lingkungan.
4. Peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah organik.