Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata KKN dari Institut Teknologi Kalimantan ITK melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Perumahan Mentari Village, KM 21, Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan ini berfokus pada pemanfaatan lahan kosong dengan menanam tanaman obat keluarga (TOGA), mengolah hasil tanaman menjadi produk makanan bernilai ekonomis, serta pembuatan kompos dari sampah organik dengan komposter. Kegiatan dimulai dengan melakukan survei oleh mahasiswa dan warga untuk memastikan tanah yang dipilih subur dan strategis untuk penanaman. Setelah lahan ditentukan, proses pembersihan dan pengolahan tanah dilakukan secara gotong royong untuk meningkatkan kesuburan lahan. Lahan kosong ini diperuntukkan untuk ditanami TOGA, seperti jahe, kunyit, dan sereh. Pemilihan tanaman jahe, kunyit, dan sereh, dipilih karena manfaat kesehatannya yang luas serta mudah dirawat. Setiap jenis tanaman memiliki manfaat spesifik, misalnya jahe untuk meningkatkan imunitas, kunyit sebagai antiinflamasi, dan sereh untuk relaksasi. Setelah lahan terpilih, mahasiswa bekerja sama dengan warga untuk memanfaatkan tanaman toga yang sudah siap panen menjadi berbagai olahan makanan, seperti wedang jahe, minuman herbal, dan camilan sehat yaitu permen.
Selain itu, warga mendapatkan pelatihan membuat kompos yang berasal dari sampah organik dari sisa pengolahan, seperti kulit jahe dan daun sereh, dan sisa daun-daun kering di taman TOGA yang diolah menggunakan komposter. Didalam pelatihan pembuatan kompos warga juga mendapatkan pelatihan cara membuat komposter sederhana dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar seperti menggunakan ember bekas, pipa pvc bekas, saringan plastik, dan keran. Komposter ini dilengkapi dengan pipa berlubang untuk sirkulasi udara, sehingga proses pengomposan berlangsung secara aerobik dan lebih cepat. Proses pembuatan kompos menggunakan komposter dimulai dengan penyusunan sampah-sampah berwarna coklat ke dalam komposter, sampah cokelat ini bisa berasal dari sampah daun-daun kering atau tempat telur, setelah sampah coklat dimasukkan, diikuti oleh sampah organik hijau seperti sisa kulit jahe, batang serai, buah-buahan yang sudah mulai membusuk dan sampah organik lainnya. Untuk mempercepat proses pengomposan, digunakan EM4 sebagai bioaktivator agar penguraian sampah organik berlangsung lebih cepat dan efisien. Setelah itu, komposter dapat ditutup rapat dan ditunggu ± 21-28 hari agar mendapatkan hasil kompos yang baik. Selain kompos, air lindi yang terdapat di dalamnya juga dapat dimanfaatkan untuk menyiram lahan yang kering. Warga setempat didampingi oleh mahasiswa untuk memanfaatkan kompos ini sebagai pupuk alami yang dapat digunakan kembali untuk menyuburkan lahan, menciptakan siklus bercocok tanam yang berkelanjutan.
Hasil produk olahan ini tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi pribadi tetapi juga dipasarkan oleh warga dengan pendampingan dari mahasiswa. Mahasiswa KKN dari ITK mendampingi dalam proses pemasaran dan pengemasan produk. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya selesai saat KKN berakhir, tetapi bisa menjadi kebiasaan yang berkelanjutan bagi warga,” ujar bapak Fadeli selaku dosen pembimbing KKN. Dengan program ini, mahasiswa KKN berharap dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga perekonomian lokal di Perumahan Mentari Village.
Program ini memberikan pelatihan dan keterampilan praktis kepada anggota Kelompok Swadaya Mentari. Mereka dapat mempelajari cara memilah sampah, membuat pupuk organik, dan membudidayakan TOGA dengan optimal.