Pemberdayaan Bank Sampah Prona 3 Melalui Teknologi Komposter. Program Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Kalimantan (ITK) merupakan program melibatkan mahasiswa dan mitra sebagai pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pada data DLH tahun 2024 Kota Balikpapan menghasilkan sampah mencapai 1250 ton dalam harian dengan kompisisi sampah organik 55% anorganik 22% dan kertas 12%. Diketahui bahwa sampah organik masih mendominasi sampah harian Kota Balikpapan. Sampah organik dapat diolah dengan beberapa metode yaitu komposting, magot farming, biogas digester, vermicomposting dan thermal proses. Komposting merupakan dekomposisi bahan sampah oleh mikroorganisme secara aerob atau anaerob. Komposting mendukung pada daerah yang berpenduduk padat. Magot farming menggunakan larva sebagai pengurai dan sesuai pada daerah pertanian. Biogas digester merupakann fermentasi anaerob yang menghasilan gas metana yang dapat digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga. Thermal proses dengan menggunakan temperatur tinggi cocok pada sampah campuran.
Bank Sampah Wonorejo 3 merupakan bank sampah yang memiliki jumlah 35 anggota dengan kegiatan utama sebagai berikut pengumpulan, pemilahan, dan penjualan. Bank Sampah Wonorejo Prona 3 Balikpapan menghadapi kendala dalam efisiensi dan nilai tambah terhadap pengolahan sampah organik. Maka Kegiatan pengabdian masyarakat ITK tahun 2025 memperkenalkan teknologi komposting guna mempercepat proses penguraian sampah dan meningkatkan nilai ekonominya.
Kegiatan Pengabdian menggunakan metode penyuluhan, pelatihan, demonstrasi alat komposter sederhana, serta pendampingan langsung dalam pembuatan kompos.
Kegiatan diawali dengan koordinasi mitra di lokasi Bank Sampah Wonorejo 3, kegiatan dihadiri oleh ketua pengurus Bank Sampah Wonorejo 3, Bapak Kusno dan tim pengabdian ITK. Pada pertemuan ini didiskusikan berbagai permasalah yang dihadapi oleh Bank Sampah Wonorejo 3.
Kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah organik sering dilakukan di malam hari. Sampah organik yang telah dipilah diproses dengan metode land area. Land area merupakan metode komposting yang menggunakan area terbuka dengan bantuan organisme dari tanah untuk membantu prosesnya, meskipun begitu prosesnya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan menghasilkan bau yang tidak sedap diwilayah sekitarnya.
Metode komposting tertutup memiliki banyak keuntungan, meskipun membutuhkan modal yang cukup besar di awal untuk pengadaan tempat penampungan atau drum. Proses komposting menghasilan limbah seperti metan dan air leri. Gas metan juga sebagai energi alternatif seperti kompor rumah tangga. Limbah cair diolah menjadi pupuk cair organik, penstisida alami dan fungisida.
Sampah dihaluskan sebelum di masukkan kedalam digester dengan cara dipotong. Sampah pasar didominasi oleh sampah basah yang memiliki kandungan air cukup tinggi sehingga akan membantu proses komposting, sedangkan sampah rumah tangga lebih didominasi oleh sampah kering. Pencampuran kedua sampah tersebut dilakukan didalam komposter. Pengisian komposter dilakukan dengan menyusun sampah secara berlapisan yaitu lapisan kering dilanjutkan lapisan basah secara bergantian. Setiap lapisan memiliki ketabalan sekitar 5-10 cm. Metode penyusunan berlapis ini akan memastikan bahwa setiap sisi atau bagian komposter dalam terproses dengan baik. Hal ini diperlukan karena tidak adanya tahap pengadukan selama proses komposting.
Penambahan starter EM4 dilakukan dengan cara mengaktifkan bakteri pada cairan tersebut terlebih dahulu. Pencampuran cairan EM4 dengan cairan gula (tetes) akan mampu mengaktifkan bakteri pada EM4 dan memperbanyak jumlah cairan stater. Maka akan tersedia cairan stater yang cukup untuk dapat digunakan pada komposter. Pemberian cairan EM4 pada komposter dilakukan secara bertahan yaitu perlapisan. Pemberian EM4 dengan cara tersebut akan memastikan bahwa setiap bagian dari digester telah terjangkau oleh cairan starter tanpa harus dilakukan pengadukan.
Pupuk hasil komposter diperoleh setelah 3 minggu, sampah tersebut merupakan sampah kompos kering yang dapat langsung digunakan sebagai media tanam. Suhu pada kompos menjadi salah tolak ukur apakah pupuk tersebut siap menjadi media tanam.
Tim Pelaksana Pengabdian:
1. I Made Ivan Wiyarta Cakra Sujana, S.T., M.T
2. Yongki Christandi Batubara, S.T., M.Eng
Memperkenalkan Teknologi Komposter tertutup kepada masyarakat