Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Salah satu permasalahan yang masih banyak dijumpai pada sektor pertanian dan perkebunan adalah belum optimalnya pengelolaan limbah organik hasil panen. Limbah berupa batang tanaman, daun, dan sisa hasil panen umumnya masih dibiarkan menumpuk sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan belum memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Permasalahan tersebut juga dihadapi oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) KM. 21 yang berlokasi di RT 41, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan. Kelompok ini aktif mengelola berbagai komoditas pertanian, seperti cabai, jagung, buah naga, markisa, dan nanas. Berdasarkan hasil observasi lapangan, limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas budidaya tersebut sebagian besar masih belum dimanfaatkan secara optimal sehingga diperlukan solusi yang mampu mendukung pengelolaan limbah secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Menanggapi kondisi tersebut, tim pengabdian Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melaksanakan program inovasi teknologi melalui pembangunan prototype rumah kompos yang terintegrasi dengan mesin pencacah limbah organik. Program ini dirancang untuk membantu anggota KWT KM. 21 mengolah limbah organik secara lebih efektif sehingga dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang bernilai guna. Selain mengurangi timbunan limbah organik, penerapan teknologi ini juga diharapkan mampu mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh tim dosen Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang terdiri atas Rijal Surya Rahmany, S.T., M.T. sebagai ketua tim. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga melibatkan 10 mahasiswa dari Program Studi Teknik Mesin, Teknik Material dan Metalurgi, serta Teknik Industri yang tergabung dalam Kelompok TRINOVA. Melalui kolaborasi lintas disiplin tersebut, kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) KM. 21 secara aktif mulai dari tahap identifikasi permasalahan, perancangan teknologi, pembangunan fasilitas, hingga implementasi program. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kelompok mitra.
Sebagai langkah awal pelaksanaan kegiatan, tim pengabdian menyelenggarakan acara pembukaan bersama Ketua KWT KM. 21, Ibu Sanati, beserta seluruh anggota kelompok. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan program, menyampaikan tujuan dan manfaat kegiatan, serta mendiskusikan permasalahan pengelolaan limbah organik yang dihadapi oleh kelompok. Diskusi tersebut sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun komitmen dan partisipasi aktif masyarakat selama program berlangsung.

Gambar 1. Kegiatan pembukaan dan koordinasi program pengabdian bersama anggota KWT KM. 21.
Program utama kegiatan pengabdian ini adalah perancangan dan pembangunan prototype rumah kompos yang terintegrasi dengan mesin pencacah limbah organik. Rumah kompos dibangun sebagai sarana pengelolaan limbah organik hasil pertanian dan perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh anggota KWT KM. 21. Untuk mendukung proses pengolahan limbah, rumah kompos dilengkapi dengan mesin pencacah yang berfungsi memperkecil ukuran limbah organik sehingga proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien. Melalui penerapan teknologi ini, limbah hasil panen yang sebelumnya menjadi permasalahan lingkungan dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi kegiatan budidaya tanaman serta mendukung penerapan pertanian berkelanjutan.

Gambar 2. Proses pembangunan prototype rumah kompos di lingkungan KWT KM. 21.
Sebagai bagian dari implementasi teknologi yang dikembangkan, tim pengabdian merancang dan membangun prototype rumah kompos yang terintegrasi dengan mesin pencacah limbah organik di lingkungan KWT KM. 21. Rumah kompos dirancang sebagai pusat pengelolaan limbah organik hasil pertanian dan perkebunan yang dilengkapi dengan area pencacahan, bak pengomposan, serta bak pematangan kompos. Integrasi antara rumah kompos dan mesin pencacah memungkinkan limbah organik seperti batang tanaman, daun, dan sisa hasil panen diolah secara lebih efektif melalui proses pencacahan sebelum masuk ke tahap pengomposan. Dengan sistem yang terintegrasi ini, proses pengolahan limbah menjadi lebih terstruktur, efisien, dan mudah diterapkan oleh anggota kelompok.

Gambar 3. Prototype rumah kompos yang terintegrasi dengan mesin pencacah limbah organik.
Setelah proses pembangunan selesai, tim pengabdian melakukan uji fungsi awal terhadap rumah kompos dan mesin pencacah limbah organik untuk memastikan seluruh komponen dapat beroperasi dengan baik sesuai dengan perencanaan. Uji fungsi dilakukan untuk mengetahui kinerja fasilitas yang telah dibangun serta memastikan kesiapan teknologi sebelum digunakan oleh kelompok tani.

Gambar 4. Uji fungsi mesin pencacah limbah organik sebelum digunakan oleh anggota kelompok.
Selain pembangunan fasilitas, tim pengabdian juga akan melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada anggota kelompok mengenai pengoperasian mesin pencacah, perawatan alat, pengelolaan rumah kompos, serta teknik pembuatan pupuk kompos. Kegiatan ini dirancang sebagai tahapan lanjutan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah organik secara mandiri dan berkelanjutan. Pelatihan akan dilaksanakan secara interaktif melalui penyampaian materi dan praktik langsung sehingga peserta dapat memahami seluruh tahapan pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos.

Gambar 5. Sosialisasi dan pelatihan pengoperasian mesin pencacah serta pengelolaan rumah kompos kepada anggota KWT KM. 21.
Pada kegiatan penutupan program, tim pengabdian akan melaksanakan demonstrasi penggunaan teknologi yang telah dibangun sekaligus memberikan pendampingan kepada anggota kelompok dalam mengoperasikan rumah kompos dan mesin pencacah limbah organik. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi yang telah tersedia untuk mendukung kegiatan pertanian mereka.
Sebagai tahap akhir program, akan dilakukan evaluasi kegiatan melalui diskusi bersama anggota kelompok tani untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat, efektivitas penggunaan teknologi, serta peluang keberlanjutan program di masa mendatang. Selanjutnya, akan dilakukan serah terima teknologi tepat guna berupa prototype rumah kompos dan mesin pencacah limbah organik kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) KM. 21 agar dapat dimanfaatkan secara mandiri dan berkelanjutan.

Gambar 6. Serah terima prototype rumah kompos dan mesin pencacah limbah organik kepada KWT KM. 21.
Dokumentasi:

Foto bersama tim pengabdian Institut Teknologi Kalimantan, Kelompok TRINOVA, dan anggota KWT KM. 21.
Tim Pelaksana Pengabdian:
Dosen Pembimbing
1. Rijal Surya Rahmany, S.T., M.T. (Teknik Mesin, Jurusan Teknologi Industri)
2. Andi Idhil Ismail, S.T., M.Sc., Ph.D. (Teknik Mesin, Jurusan Teknologi Industri)
Mahasiswa (Kelompok TRINOVA)
1. Zaipul (Teknik Material dan Metalurgi)
2. Arliansyah (Teknik Mesin)
3. Arini Anggraini Aris (Teknik Mesin)
4. Muhammad Dandi (Teknik Mesin)
5. Muhammad Rafli (Teknik Material dan Metalurgi)
6. Ade Ilham Pratama (Teknik Material dan Metalurgi)
7. Anindha Dianti Eka Putri (Teknik Material dan Metalurgi)
8. Angelia Tabitha K. J. (Teknik Material dan Metalurgi)
9. Zahwa Febri Tahira (Teknik Material dan Metalurgi)
10. Yulita Ismawati (Teknik Industri)
Manfaat dari kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada Kelompok Wanita Tani (KWT) KM. 21 mencakup peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan limbah organik, penerapan teknologi tepat guna, serta penguatan praktik pertanian berkelanjutan. Adapun manfaat kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1. Penerapan mesin pencacah limbah organik membantu mempercepat proses pengolahan limbah hasil panen dengan memperkecil ukuran material sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih cepat dan efisien.
2. Pembangunan rumah kompos memberikan sarana pengelolaan limbah organik yang terintegrasi dan berkelanjutan sehingga limbah hasil pertanian dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi kegiatan budidaya tanaman.
3. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan anggota kelompok dalam mengoperasikan dan merawat mesin pencacah, mengelola rumah kompos, serta memproduksi pupuk kompos secara mandiri.
4. Pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk kompos dapat mengurangi volume limbah yang terbuang ke lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sehingga mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan.
5. Program ini mendorong terbentuknya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai bahan buangan tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
6. Kegiatan pengabdian juga memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan nyata di masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini diharapkan pengelolaan limbah organik di lingkungan KWT KM. 21 menjadi lebih efektif dan berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bernilai guna bagi kegiatan pertanian. Selain memberikan manfaat lingkungan, program ini juga berpotensi meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi biaya penggunaan pupuk, serta memperkuat kemandirian kelompok dalam mengelola sumber daya yang tersedia.