Festival Budaya Erau di Tenggarong, Kalimantan Timur, merupakan salah satu warisan budaya hidup (living heritage) yang merepresentasikan identitas Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Rangkaian ritual adat seperti Beluluh, Beseprah, Mengulur Naga, hingga Belimbur tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga mengandung makna spiritual dan sosial yang kuat bagi masyarakat Kutai. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan perubahan pola konsumsi budaya, Festival Erau menghadapi tantangan untuk tetap relevan, khususnya bagi generasi muda dan wisatawan global yang cenderung mencari pengalaman budaya yang visual, interaktif, dan imersif.
Penelitian ini bertujuan mentransformasikan Festival Budaya Erau melalui penerapan video mapping sebagai media visual digital yang mampu merepresentasikan nilai-nilai adat secara etis dan kontekstual. Video mapping dipilih karena kemampuannya memproyeksikan visual ke permukaan arsitektur tiga dimensi, sehingga narasi budaya dapat disampaikan secara dinamis tanpa menampilkan ritual sakral secara literal. Pendekatan ini menempatkan teknologi sebagai alat interpretasi visual, bukan sebagai pengganti tradisi, sehingga esensi adat tetap terjaga.
Metode penelitian yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan tahapan perancangan multimedia yang mencakup studi literatur, observasi lapangan berbasis etnografi visual, wawancara dengan pihak Kesultanan Kutai Kartanegara, hingga perancangan motion graphic dan implementasi video mapping menggunakan perangkat lunak pemetaan media. Rangkaian ritual Erau diterjemahkan ke dalam simbol visual dan alur naratif berbasis motion graphic dengan gaya flat design, yang dipilih untuk menjaga keterbacaan visual, kesederhanaan bentuk, serta etika dalam representasi budaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan video mapping mampu meningkatkan daya tarik visual Festival Erau serta membantu audiens memahami alur dan makna tradisi secara lebih intuitif. Selain berkontribusi pada upaya pelestarian budaya, pendekatan ini juga berpotensi memperkuat branding wisata digital Kabupaten Kutai Kartanegara. Dengan pendekatan yang tepat dan berlandaskan nilai adat, Festival Erau dapat terus berkembang sebagai living heritage yang adaptif terhadap era digital tanpa kehilangan identitas budayanya.
Visualisasi video mapping dalam penelitian ini dilakukan melalui pembuatan prototype berupa maket fasad Museum Mulawarman dengan skala ±1:100. Maket memiliki panjang depan ±40,1 cm dan tinggi ±20 cm, yang merepresentasikan proporsi bangunan asli secara visual. Proyeksi konten video mapping dilakukan menggunakan proyektor mini HY300 dengan intensitas cahaya sekitar 400 ANSI lumen yang ditempatkan pada jarak ±1,5 meter dari maket. Penggunaan proyektor mini pada skala ini dinilai memadai untuk menampilkan visual secara jelas, tajam, dan kontras, sehingga mampu mensimulasikan karakter cahaya, warna, serta dinamika visual yang diharapkan pada penerapan video mapping berskala bangunan.

Melalui pendekatan skala, kebutuhan lumen pada prototype secara teoretis jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan pencahayaan pada bangunan sebenarnya. Dengan mempertimbangkan bahwa kebutuhan lumen berbanding lurus dengan luas bidang proyeksi, maka pada skala 1:100 kebutuhan lumen prototype diperkirakan hanya sekitar 1–2 lumen dari estimasi 10.000–20.000 lumen pada bangunan asli. Namun, penggunaan proyektor dengan intensitas cahaya yang lebih tinggi dari kebutuhan teoretis dilakukan untuk mengantisipasi faktor cahaya lingkungan, karakter material permukaan maket, serta kebutuhan dokumentasi visual. Hasilnya, visualisasi prototype mampu merepresentasikan alur narasi, komposisi visual, serta potensi integrasi konten budaya secara efektif.
Tim Peneliti :
1. Olivia Febrianty Ngabito M.Sn (Desain Komunikasi Visual/JTSP/ITK)
2. Fulkha Tajri M S.Pd., M.Sn (Desain Komunikasi Visual/JTSP/ITK)
3. Ir. Denny Huldiansyah, S.T., M.Arch., IPP (Arsitektur/JTSP/ITK)
4. Arif Fathurrahman (Desain Komunikasi Visual/JTSP/ITK)
5. Syauqi Yusva Zulfadhil (Desain Komunikasi Visual/JTSP/ITK)
1. Memberikan kontribusi pada pengembangan kajian visual budaya melalui pemanfaatan video mapping sebagai media representasi elemen budaya Festival Erau.
2. Menambah referensi akademik mengenai teknik pemetaan media (media mapping) yang dapat dioptimalkan untuk menghasilkan proyeksi video mapping yang efektif dan sesuai karakteristik objek budaya.
3. Menghasilkan model implementasi video mapping berbasis analisis akademik, yang dapat dijadikan dasar teoretis bagi penelitian selanjutnya dalam bidang desain komunikasi visual, pelestarian budaya, dan branding wisata digital.