Di tengah pesatnya pembangunan Kota Balikpapan, terutama dengan hadirnya proyek RDMP dan Ibu Kota Nusantara (IKN), masyarakat usia kerja menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks. Kemacetan, ritme kerja yang padat, serta tuntutan produktivitas tinggi melahirkan fenomena yang disebut urban stress. Tekanan ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada mental dan kualitas hidup masyarakat produktif.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menemukan bahwa taman kota memiliki efek restoratif yang nyata dalam mereduksi urban stress. Taman Bekapai, Taman Monpera, dan Taman Tiga Generasi menjadi objek kajian yang menunjukkan bagaimana ruang terbuka hijau publik mampu menghadirkan suasana tenang, interaksi sosial yang sehat, serta kesempatan untuk beristirahat dari hiruk pikuk kota.
Hasil analisis kuantitatif menggunakan metode Three Box dan Partial Least Square (PLS) memperlihatkan bahwa kunjungan rutin ke taman kota berhubungan erat dengan penurunan tingkat stres. Elemen alam seperti pepohonan, ruang terbuka, dan fasilitas rekreasi ringan terbukti memberikan ruang pemulihan mental bagi masyarakat usia kerja. Taman kota bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan juga ruang transisi psikologis yang membantu pekerja urban menjaga keseimbangan emosional.
Anggota :
1. Khairunnisa Adhar, S.T., M.Sc.,
2. Dr. Eng. Arief Hidayat, S.T., M.S.P., M.Sc., IPM,
3. Nur Herliana Putri, S.PWK.,
4. Syawaludin Ali Imron, S.PWK.
Manfaat penelitian ini terasa luas. Bagi masyarakat, taman kota menjadi ruang publik yang murah, inklusif, dan mudah diakses untuk menjaga kesehatan mental. Bagi pemerintah daerah, temuan ini menjadi dasar penting dalam merancang kebijakan pengelolaan ruang terbuka hijau yang lebih berorientasi pada fungsi restoratif, bukan hanya estetika. Bagi akademisi, penelitian ini memperkaya literatur tentang hubungan antara desain kota dan kesehatan mental. Sementara bagi komunitas dan dunia usaha, taman kota membuka peluang kolaborasi dalam kegiatan sosial, festival, maupun program CSR yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, taman kota di Balikpapan hadir bukan hanya sebagai ruang hijau, tetapi sebagai “ruang terapi publik” yang mendukung produktivitas, kesehatan mental, dan kualitas hidup generasi produktif di tengah derasnya arus urbanisasi.