Studi Prevalensi Stunting di Indonesia: Perspektif Gizi dan Kesehatan Balita

  • Fokus Riset: Smart City

  • Ketua Peneliti: Farida Nur Hayati, S.Si., M.Stat. | Anggota : Diana Nurlaily, S.Si., M.Stat., dan Primadina Hasanah, S.Si.,M.Sc.
  • Tahun Penelitian: 2024

Deskripsi

Masalah Stunting menjadi perhatian khusus yang menjadi fokus pemerintah Indonesia. Stunting menyebabkan efek yang serius terhadap kesehatan dan perkembangan anak-anak. Terjadinya Stunting ini, berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan, kematian dan perkembangan otak subobtimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. Negara-negara dengan tingkat Stunting yang tinggi menandakan adanya masalah gizi kronis dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan dan gizi yang memadai.

 

Prevalensi balita Stunting merupakan indikator untuk menilai masalah gizi pada kelompok balita di suatu wilayah atau negara. Semakin tinggi nilai prevalensi, semakin serius dan mendesak perluasan upaya untuk mengatasi masalah tersebut. World Health Organization (WHO)menetapkan angka prevalensi Stunting yang menjadi target global adalah di bawah 20%. Berdasarkan data Asian Development Bank, pada tahun 2018 prevalensi Stunting anak dibawah 5 tahun di Indonesia adalah sebesar 31,8 persen. Jumlah tersebut, menyebabkan Indonesia berada pada urutan ke-10 di wilayah Asia Tenggara. 

 

Menurut data survei status gizi indonesia (SSGI) pada tahun 2022, angka prevalensi Stunting di Indonesia mencapai 21,6%, angka tersebut masih belum mencapai target sebesar 14%. Sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui faktor utama yang menyebabkan Stunting di suatu wilayah. Dengan pemahaman lebih tentang faktor-faktor tersebut diharapkan dapat digunakan untuk melakukan intervensi yang tepat untuk mengurangi angka prevalensi Stunting dan meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup anak-anak. Penelitian ini dilakukan untuk memodelkan dan memetakkan wilayah-wilayah yang masih memerlukan penanganan lebih terkait tentang masalah Stunting dan gizi balita menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain.

 

 

Persebaran prevalensi stunting di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Gambar 1  Pemetaan Prevalensi Stunting 2022

 

Berdasarkan peta persebaran prevalensi kasus stunting, dapat diketahui bahwa di Indonesia, sebagian besar provinsi masih memiliki angka prevalensi stunting yang tinggi dari batas yang ditetapkan WHO yaitu diatas 20%. Setelah beberapa asumsi terpenuhi penulis melakukan analisis menggunakan model GWR.

 

Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap masing-masing provinsi. Hasil tersebut dapat dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Berikut merupakan pengelompokkan provinsi berdasarkan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap angka prevalensi stunting.

 

 

Berdasarkan analisis, diketahui bahwa variabel yang berpengaruh signifikan pada Provinsi dengan kelompok stunting yang tinggi (Aceh, dan Papua)adalah Persentase Pasangan Usia Subur peserta KB (%) X2, Persentase rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak (%) X3 dan Bayi Berat Badan Rendah (BBLR) (%) X4. Sehingga perlu dilakukan peningkatan partisipasi dalam program Keluarga Berencana (KB) melalui edukasi KB, Percepatan pembangunan infrastruktur sanitasi layak, khususnya di daerah pedesaan dan perkotaan padat penduduk, dan perbaikan akses ibu hamil ke layanan kesehatan, termasuk pemeriksaan antenatal rutin dan gizi selama kehamilan.

 

Pada penelitian ini, dilakukan Pemilihan model terbaik dilakukan untuk mengetahui apakah model GWR merupakan metode yang lebih baik dibandingkan dengan model OLS. Pemilihan model dapat diketahui dengan melihat nilai AIC. Berikut merupakan rangkuman hasil analisis menggunakan regresi OLS dan GWR.

 

 

Hasil analisis menunjukkan, bahwa model local atau GWR menghasilkan model yang lebih baik daripada model global atau OLS. Hal ini dapat diketahui dari nilai AIC yang lebih kecil yaitu sebesar 187,58.


Manfaat

1. Mengetahui pemodelan kasus Stunting yang ada di indonesia pada setiap wilayah sehingga dapat digunakan untuk pembuatan kebijakan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik setiap provinsi

2. Mengetahui pengelompokkan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kasus Stunting per wilayah di Indonesia. Sebagai upaya yang tepat dalam menurunkan kasus Stunting di Indonesia pada setiap kelompok yang berbeda

AGENDA

12

Mar

Workshop Pembuatan Video Aftermovie KKN ITK
09.00 WITA s/d 12.00 WITA
Zoom Meeting : https://s.itk.ac.id/video_aftermovie

16

Feb

Scholarship Info Session : AUSTRALIA AWARDS
10.00 - 12.00 WITA
Zoom Cloud Meeting (https://s.itk.ac.id/zoom_aas)

11

Feb

Diseminasi Inovasi Edisi #1
13.30 WITA - Selesai
Via zoom meeting dan Youtube Institut Teknologi Kalimantan
Lihat Selengkapnya