Hasil studi kelayakan pengembangan Pelabuhan Sungai Kampung Baru Balikpapan dan Pelabuhan Sungai Penajam Paser Utara menunjukkan bahwa permasalahan utama pelayanan penyeberangan bukan terletak pada kapasitas dermaga, melainkan pada keterbatasan infrastruktur pendukung dan tingginya tingkat keterisian kapal. Studi ini menilai kinerja pelabuhan melalui analisis teknis dan operasional sepanjang tahun 2024.
Berdasarkan analisis Berth Occupancy Ratio (BOR), tingkat pemanfaatan dermaga di Pelabuhan Kampung Baru tercatat sebesar 42,04 persen, sementara Pelabuhan Penajam hanya 32,27 persen. Angka ini masih jauh di bawah standar optimal UNCTAD sebesar 70 persen. Meski demikian, antrean kendaraan dan penumpang tetap terjadi akibat akses masuk dermaga yang sempit, zona antrean terbatas, serta jalur keluar-masuk kendaraan yang belum terpisah secara memadai.
Di sisi lain, kinerja angkutan kapal Sungai atau klotok menunjukkan kondisi sebaliknya. Analisis Load Factor mengungkapkan rata-rata tingkat keterisian angkutan kendaraan mencapai 82,08 persen dan penumpang 86,86 persen, bahkan pada beberapa bulan melebihi 100 persen. Kondisi ini menandakan kelebihan muatan yang berpotensi mengganggu keselamatan dan kelancaran operasional penyeberangan Balikpapan–Penajam.
Untuk merumuskan arah pengembangan, studi ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan melibatkan pemangku kepentingan pelabuhan. Hasilnya, prioritas pengembangan pelabuhan diarahkan pada ekspansi zona antrean, penambahan loket tiket, perbaikan akses lalu lintas pelabuhan, serta pemisahan jalur kendaraan masuk dan keluar. Sementara itu, pengembangan transportasi klotok diprioritaskan pada pemasangan pintu rampa, penambahan tangga penumpang lipat, dan peningkatan desain kapal guna mempercepat proses bongkar muat.
Studi ini menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan penyeberangan Balikpapan–Penajam tidak memerlukan penambahan tambatan dalam jangka pendek, melainkan penataan ruang pelabuhan dan efisiensi operasional kapal. Implementasi arahan pengembangan secara bertahap diharapkan mampu mengurangi antrean, meningkatkan keselamatan, serta mendukung mobilitas masyarakat dan konektivitas antarwilayah secara berkelanjutan.
Anggota :
Mohtana Kharisma Kadri
Studi ini menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan penyeberangan Balikpapan–Penajam tidak memerlukan penambahan tambatan dalam jangka pendek, melainkan penataan ruang pelabuhan dan efisiensi operasional kapal. Implementasi arahan pengembangan secara bertahap diharapkan mampu mengurangi antrean, meningkatkan keselamatan, serta mendukung mobilitas masyarakat dan konektivitas antarwilayah secara berkelanjutan.