Mikroalga telah populer dalam beberapa tahun terakhir sebagai bahan baku biomassa berkelanjutan yang memiliki potensi dalam pembuatan berbagai produk yang bernilai tambah, seperti obat-obatan, kosmetik, bahan bakar nabati, pakan ternak, pewarna alami, dan lain-lain. Adapun mikroalga yang berpotensi besar sebagai bahan baku pembuatan biodiesel adalah spirulina sp. karena mengandung kadar lipid yang cukup tinggi. Mikroalga dapat menghasilkan biodiesel melalui berbagai proses seperti biofotolisis, fermentasi, dan esterifikasi. Saat proses biofotolisis atau fotosintesis, mikroalga membutuhkan nutrisi selain CO2 dan sinar matahari untuk pertumbuhannya. Selain itu, membutuhkan air dan nutrisi yang banyak untuk proses kultur. Penggunaan pupuk kimia dan air biasa sebagai media produksi tampaknya tidak berkelanjutan, terutama ketika memproduksi produk dengan biaya rendah seperti biodiesel. Sehingga dalam hal ini, memanfaatkan limbah cair tahu yang mengandung berbagai senyawa organik dan nutrisi dalam proses kultivasi. Mikroalga memiliki keunggulan yang cukup besar sebagai bioremediator limbah, antara lain kebutuhan area budidaya yang tidak luas, kaya akan kandungan karbohidrat, protein, dan lipid. Biomassa dan lipid perlu ditingkatkan untuk dapat memaksimalkan perolehan yield biodiesel. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pengaruh warna cahaya dan fotoperiod intensitas cahaya. Sebuah model pertumbuhan mikroalga digunakan untuk memperkirakan produktivitas fotobioreaktor sebagai fungsi intensitas cahaya dan komposisi spektral cahaya.
Pada penelitian ini dilakukan proses bioremediasi spirulina sp. melalui media limbah cair tahu sebagai nutrisi yang dipengaruhi oleh warna cahaya dan fotoperiod intensitas cahaya untuk memaksimalkan perolehan biomassa dan lipid. Konsentrasi limbah cair tahu yang digunakan yakni 5 – 20%. Selain itu proses bioremediasi dilakukan pada kondisi fotoperiod terang (T) : gelap (G) yakni 16T:8G, 20T:4G, 24T:0G dengan warna cahaya putih, kuning dan biru. Dalam rangka mendapatkan trendline laju pertumbuhan mikroalga dan produktivitas mikroalga maka dilakukan analisis Optical Density (OD). Serta, dilakukan pula pengujian proksimat untuk melihat pengaruh kondisi terhadap kandungan mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fotoperiod yang optimal untuk perolehan biomassa Spirulina sp. adalah lampu kuning 24T:0G. Sedangkan jika ditinjau dari peningkatan lipid optimal menunjukkan bahwa pada kondisi kultivasi lampu putih 16T:8G dapat meningkatkan kadar lipid. Manajemen budidaya ini diharapkan dapat meningkatkan perolehan biomassa yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.
Sebagai inovasi dalam pemanfaatan limbah cair tahu dan Spirulina sp. sebagai bahan baku pembuatan biodiesel yang dapat dikembangkan menjadi alternatif energi terbarukan