Staf Pengajar Prodi PWK dan Arsitektur Berkolaborasi Dalam Penelitian Mengenai Defensible Space Dalam Upaya Pencegahan Tindak Kriminalitas di Kota Balikpapan Dalam Upaya Mewujudkan Kalimantan Timur Yang Aman dan Berkelanjutan

  • Fokus Riset: Smart City

  • Ketua Peneliti: Ir. Rahmat Aris Pratomo, S.T., M.T., M.Sc., ASEAN Eng., APEC Eng. | Anggota : Nadia Almira Jordan, S.T., M.T.; Dwiana Novianti Tufail, S.T., M.T.; Ogamaliel Sohmo Sinamo, S.P.W.K.; Deka Adam Budiman, S.P.W.K.; Ajeng Meidiany Putri, S.P.W.K.
  • Tahun Penelitian: 2024

Deskripsi

Kota Balikpapan, sebagai gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, peningkatan tingkat kriminalitas di kota ini menimbulkan kekhawatiran akan citra dan reputasi IKN sebagai pusat administrasi yang aman. Jika tidak segera diatasi, hal ini dapat menghambat pembangunan dan mengurangi kepercayaan masyarakat serta pelaku bisnis terhadap keamanan kawasan tersebut. Data dari BPS Kalimantan Timur menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terdapat 822 kasus kriminal yang dilaporkan.

 

Pencegahan kriminalitas menjadi prioritas penting, terutama dalam menarik investasi dan memastikan kesuksesan IKN. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah konsep smart city, yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup penduduk, termasuk menciptakan lingkungan yang aman. Konsep defensible space yang dikemukakan oleh Oscar Newman juga relevan dalam konteks ini, dengan empat elemen kunci: territoriality, image, milieu, dan natural surveillance, yang dapat menciptakan ruang yang lebih sulit bagi pelaku kejahatan untuk beraksi.

 

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting defensible space di Kota Balikpapan, dengan pendekatan objektif dan subjektif melalui persepsi masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan ruang yang aman dan sesuai dengan karakteristik lingkungan masyarakat setempat.

 

Mengidentifikasi Kelurahan yang Paling Rawan Tindak Kriminalitas

Kota Balikpapan terdiri dari 34 kelurahan, dan berdasarkan data Polresta Balikpapan pada tahun 2022-2023, tercatat sebanyak 505 kasus kriminalitas. Untuk menentukan kelurahan dengan tingkat kerawanan kriminalitas tertinggi, dilakukan analisis K-Means dengan bantuan software Microsoft Excel. Proses ini menghasilkan 5 kluster tingkat kerawanan, mulai dari sangat tinggi hingga sangat rendah. Setelah melalui 7 iterasi, Kelurahan Klandasan Ilir teridentifikasi sebagai kelurahan dengan tingkat kerawanan sangat tinggi, sementara kelurahan lainnya tersebar di berbagai kluster.

 

Selanjutnya, dilakukan analisis Kernel Density menggunakan software ArcGIS untuk memetakan titik-titik kriminalitas di Kota Balikpapan pada periode yang sama. Analisis ini menghasilkan peta yang menunjukkan 4 kelurahan dengan klasifikasi kerawanan sangat tinggi, yaitu Klandasan Ilir, Klandasan Ulu, Gunung Sari Ilir, dan Damai. Dengan pendekatan ini, area yang paling rawan dapat diidentifikasi secara lebih spesifik berdasarkan pola persebaran kejadian kriminalitas.

 

Tahap akhir adalah overlay hasil analisis K-Means dan Kernel Density untuk menentukan area paling rawan di Kelurahan Klandasan Ilir, yang mencakup 10 RT. Kesepuluh RT tersebut akan menjadi lokasi studi untuk pengambilan sampel dalam identifikasi kondisi defensible space, dengan tujuan memahami lebih lanjut bagaimana konsep ini diterapkan untuk mengurangi tingkat kriminalitas di kawasan tersebut.

 

 

Gambar 1. (Kiri) Peta Tingkat Kerawanan Berdasarkan Kernel Density dan (Kanan) Peta Kawasan Dengan Tingkat Kerawanan Kriminalitas Sangat Tinggi di Kota Balikpapan

 

Menilai Kondisi Eksisting Defensible Space pada Daerah Rawan Kriminalitas

Penelitian ini membuka mata kita tentang kondisi keamanan di kawasan rawan kriminalitas Kota Balikpapan. Dari total 760 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 10 RT, sebanyak 262 sampel dipilih secara cermat untuk menggambarkan realitas yang ada. Penilaian defensible space, dilakukan dengan pendekatan objektif dan subjektif, mengungkap bagaimana lingkungan sekitar mempengaruhi rasa aman. Skala penilaian mulai dari "sangat tidak aman" hingga "sangat aman" memberi wawasan mendalam tentang faktor-faktor seperti pembatas fisik, ruang publik, alat keamanan, hingga pencahayaan yang ada. Dengan penelitian ini, kita ingin mengetahui sejauh mana lingkungan bisa menjadi benteng terakhir untuk melawan kejahatan dan menciptakan rasa aman yang sesungguhnya.

 

 

Gambar 2. Kondisi Eksisting Defensible Space

Hasil penilaian subjektif dari responden menunjukkan bahwa mayoritas dari mereka merasa cukup aman hingga sangat aman terhadap beberapa komponen defensible space. Komponen territoriality, yang mencakup variabel pembatas fisik, ruang publik, paguyuban, dan kesadaran ruang, dinilai memberikan rasa aman oleh 79,5% responden. Demikian pula, komponen image yang terdiri dari variabel seperti terawat, keramaian, terkontrol, dan kegiatan komersial, dinilai menciptakan rasa aman sebesar 75,7%. Komponen milieu yang mencakup fasilitas keamanan, aksesibilitas, pendatang, dan heterogenitas juga dinilai cukup aman oleh 76,5% responden. Selain itu, komponen natural surveillance yang terdiri dari variabel pencahayaan, letak rumah, keterbukaan visual, pengawasan penduduk, dan interaksi, menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa aman, meskipun tidak semua variabel dalam komponen ini memberikan penilaian positif. Hasil ini mengindikasikan bahwa persepsi subjektif masyarakat terhadap keamanan lingkungan dipengaruhi oleh keyakinan dan pengalaman pribadi mereka, sebagaimana yang dijelaskan oleh teori Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED). Teori ini menggarisbawahi bahwa persepsi keamanan masyarakat seringkali bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, serta lingkungan yang menciptakan sinyal visual bahwa lingkungan tersebut aman.

 

Namun, ketika dilakukan penilaian objektif terhadap kondisi eksisting defensible space, ditemukan adanya perbedaan signifikan dengan persepsi subjektif masyarakat. Pada komponen territoriality, misalnya, meskipun 79,5% responden merasa aman secara subjektif, penilaian objektif menunjukkan bahwa komponen ini hanya memberikan keamanan fungsional sebesar 26,75%. Hal ini menyoroti adanya kesenjangan antara persepsi keamanan dan kondisi fisik lingkungan yang sebenarnya. Pada komponen natural surveillance, hanya 3 dari 7 variabel yang dinilai aman secara objektif, yaitu letak rumah, keterbukaan visual, dan interaksi. Sebagian besar variabel lainnya, seperti pencahayaan dan pengawasan penduduk, dinilai tidak memberikan rasa aman secara optimal. Komponen image dan milieu juga menunjukkan kecenderungan yang sama, di mana beberapa variabel dinilai tidak efektif dalam menciptakan rasa aman. Misalnya, meskipun banyak responden merasa bahwa lingkungan mereka terawat dan aman, secara objektif ditemukan bahwa banyak elemen tidak berfungsi optimal, seperti pencahayaan jalan yang tidak memadai atau fasilitas keamanan yang kurang efektif. Hal ini sejalan dengan teori broken windows yang diperkenalkan oleh James Q. Wilson dan George L. Kelling (1982), yang menyatakan bahwa lingkungan yang tidak terawat atau memiliki elemen-elemen yang rusak dapat menciptakan kesan bahwa area tersebut tidak diawasi dengan baik, sehingga memicu peningkatan risiko tindak kriminalitas.

 

 

Gambar 3. Persentase Tingkat Keamanan Secara Subjektif (Kiri) dan Objektif (Kanan)

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun persepsi subjektif masyarakat terhadap keamanan lingkungan cenderung positif, terdapat perbedaan mencolok dengan hasil penilaian objektif yang mengungkapkan berbagai kekurangan dalam elemen-elemen defensible space yang ada. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya perbaikan dalam desain dan manajemen lingkungan fisik untuk menciptakan keamanan yang lebih nyata dan berkelanjutan, terutama di kawasan dengan tingkat kerawanan kriminalitas yang tinggi.


Manfaat

Manfaat penelitian ini yaitu diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan ruang yang aman untuk meminimalisir potensi terjadinya tindak kriminalitas. Selain itu, hasil penelitian ini, yang pertimbangan karakteristik ruang hidup masyarakat Kalimantan Timur, terlebih lagi belum adanya penelitian defensible space sebagai tolak ukur di Provinsi Kalimantan Timur, sehingga lebih lanjut dapat menjadi acuan dalam penyediaan lingkungan tempat tinggal di Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang aman untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

AGENDA

12

Mar

Workshop Pembuatan Video Aftermovie KKN ITK
09.00 WITA s/d 12.00 WITA
Zoom Meeting : https://s.itk.ac.id/video_aftermovie

16

Feb

Scholarship Info Session : AUSTRALIA AWARDS
10.00 - 12.00 WITA
Zoom Cloud Meeting (https://s.itk.ac.id/zoom_aas)

11

Feb

Diseminasi Inovasi Edisi #1
13.30 WITA - Selesai
Via zoom meeting dan Youtube Institut Teknologi Kalimantan
Lihat Selengkapnya