Ekowisata Bamboe Wanadesa terletak di Jl. Giri Rejo RT. 26, Karang Joang, Balikpapan Utara, Kalimantan Timur. Destinasi ini dikenal dengan konsep ekowisata yang memanfaatkan bambu sebagai elemen utama daya tariknya. Dengan luas sekitar 80 hektar, lokasi ini berbatasan langsung dengan Waduk Manggar dan memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan pariwisata sekaligus penguatan ekonomi masyarakat setempat. Selain itu, branding lokasi semakin kuat karena pernah dikunjungi oleh Presiden RI, menjadikannya salah satu ikon wisata daerah. Kawasan ini mulai dikembangkan pada tahun 2014 oleh Murdyanto dan warga Kampung Pati dengan bantuan program Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E), sekitar 3.600 bibit bambu ditanam di area seluas 6 hektare. Setelah enam tahun perawatan, kawasan ini resmi dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata pada tahun 2020, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan serta memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Pada tahun 2021 pengunjung ekowisata bamboe semakin banyak, namun perkembangan infrastruktur yang merupakan bagian dari produk wisata masih terbatas. Ekowisata Bamboe Wanadesa sebagai destinasi pariwisata seharusnya menjadi penggerak ekonomi dan mampu menciptakan lapangan kerja. Namun, kenyataannya hingga kini belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat sekitar. Selain infrastuktur, produk wisata penting lainnya untuk pengembangan sebuah tempat wisata berupa suvenir juga belum tersedia. Pariwisata dan suvenir memiliki hubungan erat yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ekonomi. Karena pariwisata tidak terlepas dari kegiatan aktifitas belanja. Hingga saat ini Ekowisata Bamboe Wanadesa belum memiliki suvenir, pengingat nyata untuk parawisatawan dan juga dapat membantu mempromosikan budaya dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti mengangkat permasalahan terkait potensi lokal dan budaya yang dapat digunakan untuk pengembangan potensi Ekowisata Bamboe Wanadesa melalui desain suvenir. Mengembangkan konsep, melakukan positioning dan diferensiasi, serta promosi pariwisata Kota Balikpapan. Hal ini dapat menjadi strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan mencakup mempelajari dan menghormati warisan lokal, bertindak secara bertanggung jawab, dan juga mendukung ekonomi lokal. Tujuannya adalah untuk melindungi destinasi wisata dan menjaga keberlanjutan industri pariwisata itu sendiri.
Proses penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Tahap emphatize dengan melakukan survey, pengamatan dan wawancara terhadap pengguna. Pengamatan dilakukan dengan cara melihat bagaimana pengguna berinteraksi dan beraktivitas di ekowisata Bamboe Wanadesa. Berdasarkan hasil pengamatan dan survei, pengunjung ekowisata alam didominasi oleh remaja usia <20 tahun sejumlah 78,4%, usia 30-39 tahun sebanyak 11,8% dan sisanya terdistribusi ke pengunjung usia 20-29 tahun dan 40-49 tahun. Ekowisata bamboo wanadesa 62,7% dimanfaatkan untuk rekreasi seperti acara family and gathering. Selebihnya dimanfaatkan untuk pendidikan (proses pembelajaran di luar kelas), olahraga, fotografi, dan lain sebagainya. Ketertarikan pengunjung terhadap produk suvenir 27,5% sangat tertarik; 47,1% tertarik; 21,6% biasa saja. Adapun untuk kisaran harga suvenir dengan sangat mempertimbangkan aspek ramah lingkungan sebanyak 75% dengan harga <Rp.50.000,00,- dan 27,5% pengunjung di kisaran harga Rp.50.000,-Rp.100.000,-.
2. Tahap define yaitu mendefinisikan permasalahan/ kebutuhan di Ekowisata Bamboe Wanadesa. Berdasarkan hasil survei dan analisis 74,6% produk suvenir diminati oleh pengunjung/ para wisatawan Bamboe Wanadesa. Kondisi ini menjadi peluang ekowisata bamboe untuk melakukan pengadaan produk suvenir, mengingat kondisi eksisting di lokasi wisata belum terdapat produk souvenir.
3. Tahap Idea merupakan menghasilkan ide untuk menjadi solusi Permasalahan dengan melakukan proses brainstorming dengan tim dan stakeholder terkait. Ide yang didapatkan melalui proses brainstorming tersebut akan menghasilkan ide berupa solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh pengguna (Wibowo & setiaji, 2020). Pada tahap define telah ditemukan masalah yakni adanya kebutuhan masyarakat terhadap suvenir. . Hal ini menjadi dasar peneliti dalam mengembangkan potensi Ekowisata Bamboe Wanadesa melalui desain suvenir yang memanfaatkan sumber daya yang ada di Kalimantan Timur, khususnya Kota Balikpapan. Peneliti melakukan ekplorasi potensi alam di Bamboe Wanadesa, ditemukan bahwa pengembangan desain suvenir dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan seperti bamboe, kayu dan tanah, serta memanfaatkan hasil limbah plastik para pengunjung.
4. Tahap Prototype. Berdasarkan hasil survey terkait pentingnya produk yang ramah lingkungan dan diskusi dengan kelompok swadaya kelola Ekowisata Bamboe Wanadesa ditetapkan untuk membuat desain suvenir dengan menggunakan bahan kayu/ bambu, tanah, dan juga limbah plastik. Ketiga bahan dasar tersebut ramah lingkungan dan mudah didapatkan di Balikpapan. Perancangan suvenir tidak hanya berdasarkan eksplorasi alam untuk menentukan bahan dasar pembuatan suvenir, tetapi juga eksplorasi kebudayaan yang dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya dan promosi daerah. Merepresentasikan nilai atau identitas melalui suvenir merupakan upaya dalam memeliharan kebudayaan, memperkuat identitas, dan juga sebagai media promosi. Elemen visual yang terdapat pada desain suvenir terinspirasi dari produk budaya, artefak, flora dan fauna serta hal- hal yang menunjukkan kekhasan Kalimantan Timur, khususnya Kota Balikpapan. Berikut ini merupakan referensi dan hasil prototype dari desain suvenir yang terinspirasi dari hewan endemic dan juga motif khas Kalimantan Timur.
5. Tahap selanjutnya adalah uji coba. Uji coba yang dilakukan yakni melalui penyebaran kuesioner terhadap pengelola Ekowisata Bamboe Wanadesa tentang bahan baku dan proses pembuatan suvenir yang mudah untuk mereka dapatkan dan implementasikan untuk memproduksi suvenir yang sesuai dengan minat pengunjung yakni, berbentuk aksesories, harga terjangkau, dan ramah lingkungan. Hasil uji coba menunjukkan desain suvenir yang terjangkau menurut responden adalah gantungan kunci karena fleksibel, biaya produksi murah, ramah lingkungan, dan mudah dibawa ke mana saja sehinga dapat menjadi media promosi spasial.
Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa produk wisata, khususnya desain suvenir cukup diminati oleh para pengunjung/ wisatawan. Suvenir yang memiliki banyak peminat yakni suvenir aksesories yang ramah lingkungan dan harga terjangkau. Hingga saat ini suvenir yang dihasilkan masih dalam tahap prototype. Hal ini dapat menjadi acuan peneliti selanjutnya untuk mengembangan desain suvenir dengan ide penciptaan lainya. Sementara hasil prototype desain suvenir dapat menjadi referensi untuk memproduksi suvenir sebagai potensi yang perlu dikembangkan karena memiliki daya tarik dan juga dapat dimanfaatkan sebagai media promosi. Desain suvenir yang khas dapat menjadi strategi branding dan promosi tempat wisata khususnya Ekowisata Bamboe Wanadesa.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan upaya strategi city branding di sub dimensi pariwisata Kota Balikpapan yang pada akhirnya mampu mempengaruhi keputusan berkunjung parawisatawan. Membantu pemerintah pada kawasan wisata prioritas dalam meningkatkan kunjungan wisata merupakan tujuan dimensi smart branding, yang merupakan satu pilar dalam mewujudkan pembangunan smart city sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar Bamboe Wanadesa.