Mutiara Tersembunyi di Penajam Paser Utara
Pantai Corong, yang terletak di Kelurahan Tanjung Tengah, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menyimpan potensi wisata bahari yang luar biasa. Kawasan seluas 43,66 hektare ini menawarkan panorama matahari terbit dan terbenam yang memukau, suasana pantai yang tenang, serta hamparan pasir yang luas untuk berbagai aktivitas rekreasi. Tak hanya keindahan alam, Pantai Corong juga memiliki daya tarik budaya yang unik melalui penyelenggaraan event tahunan Festival Layang-Layang bertaraf internasional dan lomba memancing yang rutin menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain itu, potensi aktivitas susur sungai (river cruise) di sekitar kawasan mangrove menjadi aset ekowisata yang menjanjikan jika dikelola dengan optimal.
Tantangan di Balik Keindahan
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan Pantai Corong masih menghadapi kendala signifikan, terutama terkait ketersediaan infrastruktur pendukung (amenitas). Penurunan jumlah pengunjung pasca-pandemi COVID-19 turut memperparah kondisi fasilitas yang ada karena kurangnya pemeliharaan. Berdasarkan observasi lapangan, beberapa fasilitas vital seperti toilet umum, sistem pengelolaan sampah, dan pusat informasi wisata belum berfungsi secara optimal, yang berpotensi mengurangi kenyamanan dan kepuasan pengunjung. Kesenjangan antara potensi alam yang tinggi dan fasilitas yang minim ini menjadi dasar dilakukannya penelitian untuk merumuskan strategi pengembangan yang tepat sasaran.
Suara Wisatawan: Apa yang Perlu Dibenahi?
Tim peneliti Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melakukan kajian mendalam menggunakan metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan survei kuantitatif dan observasi kualitatif. Melalui analisis Importance-Performance Analysis (IPA), penelitian ini memetakan persepsi pengunjung terhadap infrastruktur yang ada. Hasil analisis menunjukkan temuan menarik pada Kuadran I (Prioritas Utama), di mana fasilitas toilet dan jaringan persampahan dinilai sangat penting oleh wisatawan namun memiliki kinerja yang masih rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa perbaikan sanitasi dan kebersihan harus menjadi fokus utama penataan kawasan segera. Di sisi lain, infrastruktur seperti jaringan listrik dan akses jalan (Kuadran II) dinilai sudah cukup baik dan perlu dipertahankan kualitasnya.
Strategi Menuju Desa Wisata Mandiri
Berdasarkan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), Pantai Corong berada pada posisi strategis untuk pertumbuhan agresif. Kekuatan utama kawasan ini terletak pada peran aktif Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) "Sinar Bahari" dan dukungan pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Rekomendasi pengembangan ke depan difokuskan pada konsep pemberdayaan masyarakat, antara lain:
1. Penguatan Amenitas Dasar: Renovasi fasilitas toilet dan penyediaan tempat sampah terpadu untuk meningkatkan kenyamanan dasar wisatawan.
2. Diversifikasi Atraksi: Mengembangkan paket wisata edukasi susur sungai dan mengoptimalkan area terbuka untuk event budaya yang melibatkan UMKM lokal, sehingga dampak ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga.
3. Digitalisasi Promosi: Mendorong Pokdarwis untuk memanfaatkan media sosial dan platform digital secara masif guna memperluas jangkauan promosi Festival Layang-Layang dan keindahan alam Pantai Corong.
Melalui sinergi antara perbaikan infrastruktur fisik dan penguatan kapasitas masyarakat, Pantai Corong diharapkan dapat bertransformasi menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya indah dipandang.
Anggota :
1. Srirahadita Pamungkas, S.T., M.T. (Perencanaan Wilayah dan Kota/ JTSP/FPB)
2. Elin Diyah Syafitri, S.T., M.Sc. (Perencanaan Wilayah dan Kota/ JTSP/FPB)
3. Putri Fatimatuzzahroh Ilhami (Perencanaan Wilayah dan Kota/ JTSP/FPB)
1. Mengidentifikasi kondisi eksisting infrastruktur wisata di Pantai Corong melalui pendekatan 6A (Attraction, Accessibility, Amenities, Accommodation, Activities, Ancillary).
2. Menganalisis kesenjangan antara harapan pengunjung dan kinerja fasilitas saat ini menggunakan metode Importance-Performance Analysis (IPA).
3. Merumuskan rekomendasi strategi pengembangan kawasan menjadi desa wisata yang mandiri dan berkelanjutan berbasis pemberdayaan komunitas lokal (Pokdarwis).