Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki tingkat konsumsi dan nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, produksi ikan mas nasional terus meningkat setiap tahun, dengan total produksi di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2020 mencapai 15.139 ton. Keunggulan ikan mas antara lain pertumbuhan yang cepat, kemudahan pemeliharaan, dan harga yang terjangkau, menjadikannya sebagai pilihan utama dalam budidaya ikan air tawar (Akbarurrasyid et al., 2020). Namun keberhasilan budidaya ikan mas sangat bergantung pada kestabilan kualitas air, terutama kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen). Oksigen terlarut yang rendah dapat menyebabkan stres, menurunkan imunitas ikan, dan pada level kritis dapat mengakibatkan kematian massal (Pane et al., 2023). Standar Nasional Indonesia (SNI) menyebutkan bahwa kadar oksigen terlarut minimal yang diperlukan untuk budidaya ikan mas adalah 5 mg/L (SNI, 1999). Hasil pengamatan awal di kolam ikan mas Pemancingan Rama Graha menunjukkan bahwa kadar oksigen terlarut hanya berkisar antara 2,0 hingga 2,3 mg/L, jauh di bawah ambang batas yang dianjurkan, meskipun parameter lain seperti suhu (27°C) dan pH (7) masih dalam rentang optimal. Kondisi ini berpotensi besar menyebabkan penurunan produktivitas dan kerugian ekonomis. Beberapa metode konvensional telah digunakan untuk mengukur kadar oksigen terlarut, seperti metode titrasi iodometri (Winkler) dan penggunaan alat ukur DO meter berbasis elektrode membran. Namun, metode ini memiliki keterbatasan dalam hal waktu dan kontinuitas, serta tidak mampu memberikan data secara real-time. Hal ini menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan keputusan, yang pada akhirnya dapat membahayakan kelangsungan hidup ikan (Septiawan et al., 2014).

Gambar 1
Penelitian ini mengembangkan sistem pemantauan kadar oksigen terlarut berbasis Internet of Things menggunakan mikrokontroler ESP32, sensor DO analog, LCD 16x2 dengan modul I2C, dan platform Blynk sebagai antarmuka pemantauan jarak jauh secara realtime. Sistem ini bertujuan untuk memantau kadar oksigen terlarut dalam air kolam ikan mas, yang berdasarkan observasi lapangan dan wawancara dengan pembudidaya ikan di lokasi penelitian, menjadi penyebab utama tingginya tingkat kematian ikan. Hasil pengukuran awal kadar oksigen terlarut menunjukkan nilai rata-rata sebesar 2,1 mg/L, jauh di bawah standar minimal SNI yaitu 5 mg/L. Hal ini memperkuat kebutuhan akan sistem monitoring yang mampu memantau kadar oksigen terlarut secara kontinu dan memberikan peringatan dini secara otomatis.
Penelitian dapat dikembangkan kembali dengan beberapa fitur seperti:
a. Integrasi Multi-Parameter Kualitas Air
- Menambahkan sensor untuk pH, suhu, salinitas, dan amonia agar pemantauan lebih komprehensif.
- Membuat dashboard analitik yang menampilkan tren dan korelasi antarparameter.
b. Automasi Tindakan Korektif
- Mengintegrasikan dengan aktuator (misalnya aerator otomatis) yang aktif saat DO turun di bawah batas.
- Menggunakan kontrol berbasis logika fuzzy atau AI untuk pengaturan aerasi yang hemat energi.
c. Integrasi dengan Sistem Manajemen Budidaya
- Menghubungkan dengan ERP perikanan untuk pencatatan pakan, pertumbuhan ikan, dan biaya operasional.
- Menambahkan fitur laporan otomatis untuk audit dan sertifikasi.
Tim Peneliti:
1. Faishal Arham Praktikno (Teknik Logistik/JTI/FRTI/ITK)
2. Putri Gesan Prabawa Anwar (Teknik Logistik/JTI/FRTI/ITK)
3. Healty Susantiningdyah (Teknik Industri/JTI/FRTI/ITK)
4. Khusnul Hayati (Teknik Industri/JTI/FRTI/ITK)
5. Denok Anggraeni Styowati (Teknik Logistik/JTI/FRTI/ITK)
Optimalisasi Kualitas Air pada Budidaya Ikan Mas berbasis Internet of Things memberikan manfaat antara lain:
1. Memberikan sistem pemantauan kadar oksigen terlarut (DO) berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan mikrokontroler ESP32, sensor Dissolved Oxygen, serta aplikasi Blynk sebagai platform monitoring real-time.
2. Memberikan kemudahan bagi pembudidaya ikan mas dalam memantau kualitas air, khususnya parameter oksigen terlarut, yang merupakan faktor krusial dalam menjaga kesehatan dan pertumbuhan ikan.
3. Memberikan manfaat praktis berupa sistem monitoring yang hemat biaya, dapat diakses secara jarak jauh, dan mampu memberikan data secara berkala tanpa keterlibatan manusia secara langsung. Hal ini tentu sangat relevan dalam konteks efisiensi tenaga kerja dan respon cepat terhadap kondisi air yang memburuk, yang bisa menyebabkan kematian ikan secara massal.