Konsumsi energi di Indonesia didominasi oleh penggunaan energi fosil seperti batu bara. Menurut Kementerian ESDM , penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia masih dominan sebesar 87,4% dengan konsumsi batubara sebesar 193 juta ton. Penggunaan batu bara di industri dihasilkan dari proses pertambangan yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan seperti menurunnya kualitas tanah, penurunan kualitas air dan pencemaran udara. Penggunaan batu bara yang semakin tinggi akan membuat cadangan batu bara tersebut menipis akibat penggunaan batu bara secara terus menerus. Oleh karena itu, diperlukan adanya energi alternatif agar keberlangsungan dan energinya dapat digunakan secara terus menerus. Refuse Derived-Fuel (RDF) merupakan salah satu energi alternatif yang memanfaatkan limbah biomassa dan sebagai pengganti bahan bakar batu bara dengan pengolahan yang lebih efisien dikarenakan tidak memerlukan lahan yang luas, serta memiliki nilai kalor tinggi yang dapat menyerupai batu bara yaitu sebesar 3000 – 5000 kal/g. sedangkan untuk nilai kalor batu bara yaitu sebesar 3000 – 6000 kal/g.
Cangkang kelapa sawit atau tempurung kelapa sawit merupakan bagian keras yang terdapat pada buah kelapa sawit yang berfungsi untuk melindungi isi atau kernel dari sawit tersebut. Cangkang kelapa sawit memiliki kegunaan sebagai bahan baku arang, bahan bakar untuk boiler di industri, bahan campuran untuk makanan ternak dan sebagai pengeras jalan atau pengganti aspal khususnya di perkebunan kelapa sawit. Pada proses pengolahan 1 ton kelapa sawit akan menghasilkan limbah berupa cangkang kelapa sawit sebanyak 6,5% atau 65 kg. Cangkang kelapa sawit merupakan salah satu limbah biomassa pengolahan minyak kelapa sawit yang jumlahnya 60% dari produksi minyak inti. Cangkang kelapa sawit berwarna hitam keabuan berbentuk tidak beraturan dan memiliki kekerasan yang cukup tinggi. Nilai kalor cangkang kelapa sawit yaitu sebesar 4799,13 kal/g.
TKKS adalah tandan yang telah dipisahkan dari buah segar kelapa sawit dengan kuantitas sebanyak 23% dari tandan buah segar yang akan diolah. Sebagai biomassa lignoselulosik, TKKS dapat dibuat arang dengan proses yang relatif sederhana. TKKS menghasilkan kadar abu yang sangat sedikit, sehingga apabila dijadikan RDF akan menghasilkan abu yang sedikit dan tidak mencemari lingkungan. TKKS merupakan salah satu jenis limbah padat yang dihasilkan dalam industri minyak sawit. Jumlah TKKS ini cukup besar karena hampir sama dengan jumlah produksi minyak kelapa sawit mentah yaitu sebanyak 22 – 23%. Nilai kalor TKKS yaitu sebesar 4489,10 kal/g.TKKS memiliki kandungan utama berupa selulosa, hemiselulosa dan lignin. Komposisi kimia dari TKKS yaitu terdiri dari 45,95% selulosa, 22,84% hemiselulosa dan 16,49% lignin. Kandungan selulosa dan hemiselulosa dalam TKKS akan mempengaruhi besarnya nilai fixed carbon, hal ini dikarenakan komponen penyusun selulosa adalah karbon. Semakin besar kandungan selulosa maka nilai fixed carbon akan semakin tinggi.
Pemanfaatan limbah sebagai energi terbarukan