Perkembangan Smart City dan kemajuan teknologi digital membawa tantangan sekaligus peluang dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi menjadi penggerak globalisasi dan inovasi, namun di sisi lain masih terdapat kesenjangan akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak penyandang disabilitas. Padahal, konstitusi dan Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 telah menegaskan hak mereka atas pendidikan inklusif. Salah satu kelompok disabilitas yang kerap menghadapi hambatan belajar adalah anak-anak tunagrahita. Mereka memiliki keterbatasan kognitif dengan IQ rata-rata 50–70, kesulitan memahami konsep abstrak, serta tantangan dalam berkomunikasi. Minimnya media pembelajaran yang ramah dan adaptif memperparah kesenjangan ini. Akibatnya, potensi mereka belum sepenuhnya teroptimalkan, bahkan berisiko semakin tertinggal dalam era digital.
Metode dan Pendekatan
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti merancang LearnJoy, sebuah aplikasi pembelajaran berbasis AI dan adaptive learning dengan konsep healing technology. Pengembangannya menggunakan pendekatan Design Thinking yang meliputi lima tahap:
1. Emphatize
Dilakukan kajian literatur dan in-depth interview dengan guru, orang tua, dan anak tunagrahita. Pendekatan ini membantu memahami kondisi nyata, kebutuhan, dan kesulitan yang mereka hadapi.
2. Define
Tim menyusun empathy map, user persona, serta daftar pain point. Dari sini muncul pertanyaan kunci: “How Might We?” untuk memandu solusi pembelajaran yang efektif sekaligus menyenangkan.
3. Ideate
Proses kreatif melahirkan fitur-fitur utama aplikasi, pembuatan sitemap, user flow, serta wireframe awal. Tahap ini memastikan struktur aplikasi logis, efisien, dan mudah dipahami oleh pengguna.
4. Prototyping
Rancangan antarmuka visual dikembangkan untuk menggambarkan pengalaman pengguna secara nyata.
5. Testing
Uji coba melibatkan 7 responden (guru SLB, orang tua, dan anak tunagrahita). Melalui usability testing dan System Usability Scale (SUS), aplikasi memperoleh skor 85 yang masuk kategori “Best Imaginable”. Hasil ini menunjukkan LearnJoy dinilai sangat layak, mudah digunakan, dan memberikan pengalaman belajar positif.
Hasil dan Dampak
LearnJoy hadir bukan sekadar media digital, melainkan solusi inovatif untuk menjembatani kesenjangan pendidikan inklusif. Dengan skor usability yang tinggi, aplikasi ini terbukti:
- Meningkatkan motivasi belajar anak tunagrahita.
- Membantu guru dan orang tua dalam proses pendampingan.
- Memberikan pengalaman belajar yang lebih ramah, interaktif, dan adaptif.
Kesimpulan
Penelitian dan pengembangan LearnJoy menjadi bukti bahwa teknologi dapat berperan penting dalam menciptakan pendidikan yang inklusif. Inovasi ini sekaligus mendukung misi besar menuju Indonesia Emas 2045, di mana setiap anak—tanpa terkecuali—memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi masa depan bangsa.
Tim Peneliti:
1. M. Ihsan Alfani Putera,S.Tr.Kom.,M.Kom. (Prodi Sistem Informasi/JTEIB)
2. Nursanti Novi Arisa, M.Kom. (Prodi Sistem Informasi/JTEIB)
3. Arif Wicaksono Septyanto, S.Kom M.Kom (Prodi Sistem Informasi /JTEIB)
1. Meningkatkan akses pendidikan inklusif bagi anak penyandang disabilitas, khususnya tunagrahita.
2. Mengurangi kesenjangan digital dengan pemanfaatan teknologi berbasis AI dan adaptive learning.
3. Mendukung literasi digital anak disabilitas agar lebih siap menghadapi era teknologi cerdas.
4. Membantu perkembangan kognitif dan sosial anak tunagrahita melalui media pembelajaran yang sesuai.
5. Menyediakan solusi inovatif berupa sistem pembelajaran berbasis healing technology untuk mendukung proses belajar yang ramah.
6. Mendorong terciptanya pendidikan berkualitas dan setara sesuai amanat Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
7. Memberikan kontribusi pada visi Indonesia Emas 2045 dengan menciptakan SDM yang inklusif, berdaya saing, dan adaptif.
8. Meningkatkan peran teknologi pendidikan dalam menunjang optimalisasi potensi anak disabilitas.