Seiring dengan makin banyaknya daerah perkotaan yang mengadopsi model kota pintar, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memainkan peran penting dalam transformasi ini. Hubungan ini penting karena UKM sering dianggap sebagai tulang punggung perekonomia di kota. UKM perlu mengubah metode kerja mereka untuk mengatasi faktor-faktor tersebut dan mengambil bagian dalam ekosistem kota pintar. Digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan langkah penting dalam menghadapi tantangan bisnis di era modern. Dengan memanfaatkan teknologi seperti aplikasi digital, e-commerce, dan sistem manajemen berbasis teknologi, UMKM dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperluas pasar, serta menciptakan produk yang lebih kompetitif.
Teknologi informasi terbukti dapat memengaruhi efisiensi dan efektivitas proses bisnis, terutama dalam konteks UKM sebagai subjek penelitian. Penelitian sebelumnya telah banyak berfokus pada penggunaan media sosial, yang memengaruhi berbagai komponen dalam proses bisnis. Media sosial yang diintegrasikan secara tepat dengan proses bisnis dapat meningkatkan produktivitas. Namun, efektivitas penggunaan media sosial dapat berbeda pada setiap UKM, karena setiap UKM memiliki karakteristik dan proses bisnis yang unik. Oleh karena itu, interaksi antara fitur media sosial dan kebutuhan proses bisnis menentukan kesesuaian teknologi informasi yang diadopsi oleh UKM. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi informasi, termasuk media sosial, berpotensi memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kinerja UKM.
Terdapat hubungan dua arah antara kewirausahaan dan kota pintar, di mana para pengusaha mendorong pengembangan kota pintar dan kota pintar pada gilirannya menciptakan peluang baru bagi para pengusaha. Transformasi digital memperkuat kemampuan dan fleksibilitas UKM dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis, seperti akses pelanggan, persaingan, pembiayaan, biaya operasional, guncangan eksternal, dan regulasi. Dengan adopsi teknologi, UKM dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing mereka di pasar. Namun, transformasi ini juga membawa risiko, termasuk kekurangan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk mendukung perubahan tersebut dan potensi hilangnya daya saing khas UKM yang sering bergantung pada pendekatan lokal dan personal dalam bisnis.
UKM memegang peran penting dalam pengembangan kota cerdas sebagai tulang punggung ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan kontribusi signifikan terhadap aktivitas ekonomi lokal. Dalam ekosistem kota cerdas, UKM dapat mendorong inovasi dan menawarkan solusi lokal untuk tantangan perkotaan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Transformasi digital menjadi krusial bagi UKM untuk tetap kompetitif, dengan memanfaatkan teknologi seperti AI, Blockchain, dan IoT. Pengembangan kota cerdas juga menuntut ekosistem kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan industri untuk mendorong pertumbuhan UKM kreatif, terutama di sektor makanan, tekstil, dan kerajinan tangan.
Nilai dan tantangan platform IoT terbuka bagi usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di bidang kota pintar, berdasarkan pengalaman empat UKM yang berpartisipasi dalam uji coba IoT terbuka dan berbasis penelitian. IoT berpotensi meningkatkan efisiensi, ketepatan, dan keberlanjutan ekosistem UKM, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan bisnis dan peningkatan kualitas hidup. Dalam konteks pengembangan kota pintar, Sleman menghadirkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan UKM untuk menciptakan lingkungan bisnis yang kompetitif, berbiaya rendah, dan berkelanjutan. Penelitian ini secara khusus berfokus pada bagaimana IoT mendukung UKM di Sleman, terutama dalam aspek pengembangan dan pemasaran.
Penelitian ini dilakukan dengan metode Design Science Research. Metode DSR ini mendorong para peneliti untuk mempertimbangkan konteks penggunaan sebuah artefak. Hal ini penting bagi SME karena solusinya harus disesuikan dengan kebutuhan pelaku SME dan kendala mereka. DSM mampu memasitikan bahwa artefak tersebut sesuai secara budaya, sosial, dan ekonomi dengan konteks pengambil kebijakan. DSM juga mampu mendorong kolaborasi dan partisipasi antara pihak peneliti, praktisi, dan anggota masyarakat dalam memastikan bahwa solusi yang ada lebih mungkin diadopsi dan berkelanjutan. Kerangkat kerja Hevner dapat mendukung perbaikan dan adaptasi terus menerus berdasarkan lingkungan SME [14]. Hal berulang ini penting karena keadaan pelaku SME dapat berubah seiring berjalanannya waktu. Kerangka Hevner juga mencakup proses evaluasi yang dapat membantu menentukan efektivitas dan dampak artefak yang dirancang dalam mengatasi permasalahan SME. Hal ini penting untuk memahami apakah solusi tersebut mencapai hasil yang diharapkan.
Figure 1. Design Science Research Penelitian ini
DSR dapat berkontribusi pada keberlanjutan jangka panjang dalam konteks SME. dengan memastikan bahwa solusi tersebut tidak hanya berfungsi tetapi juga dapat beradaptasi dan terukur seiring berkembangannya SME. Sehingga Kerangka Hever ini dapat menjadi pendekatan yang berharga dalam mengatasi tantangan dan peluang di SME.. Saat menerapkan kerangka Hevner untuk digitalisasi di SME, penting untuk mempertimbangkan kebutuhan spesifik, sumber daya, dan aspek sosial budaya masyarakat. Pendekatan ini memastikan bahwa solusi digital tidak hanya efektif namun juga relevan secara kontekstual dan berkelanjutan.
Dalam konteks Small SME, IoT, dan Smart City, DSR dapat digunakan untuk merancang teknologi atau sistem yang mendukung integrasi IoT dalam operasional bisnis SME. Artefak ini, seperti platform manajemen data berbasis IoT atau solusi e-commerce cerdas, memungkinkan SMEs untuk berkontribusi pada pengembangan Smart City dengan memanfaatkan data real-time untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pengalaman pelanggan.
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara ke 147 pemilik UMKM berdasarkan kriteria Root Cause Analysis yaitu Man, Machine, Method, Material, dan Environment pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Internet of Things berkaitan dengan digital teknologi yang digunakan pada proses produksi seperti mesin, manajemen data, dan kesiapan teknologi penunjang lainnya seperti alat komunikasi dan jaringan internet di daerah tersebut. Berikut ini merupakan daftar wawancara yang diajukan kepada masing-masing Pelaku Usaha Industri Mikro, Kecil, dan Menengah. Pertanyaan Wawancara yang dilakukan dengan kriteria Man adalah mengenai kesiapan tenaga kerja dalam menggunakan Internet of Things, kriteria Machine adalah pertanyaan mengenai mesin-mesin produksi yang digunakan dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, Kriteria Material adalah pertanyaan-pertanyaan terkait fasilitas penunjang dalam penerapan Internet of Things, fasilitas-fasilitas ini seperti jaringan internet, alat komunikasi dalam bekerja seperti email dan telepon, selain itu fasilitas manajemen data seperti database menggunakan teknologi SAP dan Oracle. Penunjang lainnya adalah terkait jumlah modal yang tersedia jika penerapan Internet Of Things ini dilakukan pada Industri Mikro, Kecil, dan Menengah. Kriteria Method adalah pertanyaan-pertanyaan terkait metode kerja yang otomatis dan manual yang digunakan pada Industri Mikro, Kecil dan Menengah pada Industri Mikro, Kecil, dan Menengah. Kriteria Lingkungan mengenai tentang keselamatan dan keamanan area kerja selama menjalankan proses produksi. Berikut ini merupakan hasil penyebaran wawancara dan kuisioner Kesiapan UMKM dalam Implementasi Internet of Things. Hasil Penyebaran Kuisioner dan wawancara yang dilakukan dari kriteria Man adalah sebanyak 94 % dari 147 UMKM, tenaga kerja mereka dapat menggunakan komputer dengan baik. Jika dilakukan implementasi Internet of Things, tenaga kerja tersebut siap untuk mengoperasikan setiap teknologi dan database dengan sangat baik, hanya saja perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan terkait pengoperasiannya.
Figure 2. Workforce Data Distribution.
Berdasarkan data diatas, mayoritas tenaga kerja dapat menggunakan komputer, sehingga ketika menjalankan Internet Of Things para tenaga kerja dapat dengan mudah untuk mengoperasikannya. Pelatihan teknologi yang diberikan juga akan semakin mudah untuk dipraktikan dalam mendukung peningkatan kualitas dan produktivitas produk. Permasalahan kesiapan dari kriteria tenaga kerja adalah tenaga kerja di UMKM tidak diberikan pelatihan untuk meningkatkan skill. Maka dari itu, UMKM sulit untuk menerapkan Internet of Things. Terdapat
Kriteria berikutnya yang menjadi penyebab faktor-faktor kesiapan penerapan Internet of Thimgs dalam Indusri Kecil dan menengah adalah dari kriteria mesin. Mesin yang digunakan oleh Industri Kecil Menengah adalah mesin-mesin yang memiliki kontribusi dalam peningkatan produktivitas dan kualitas UMKM. Berikut ini merupakan hasil dari sebaran data terkait penggunaan mesin dalam proses produksi .
Figure 3. Machine Data Distribution SMEs.
Berdasarkan data diatas, 85,7% dari 147 UMKM menyebutkan bahwa, penyebab ketidak siapan UMKM dalam menerapkan Internet of Things adalah peralatan produksi (mesin-mesin) yang mereka gunakan masih bersifat manual belum modern, sehingga perlu adanya peningkatan dari fasilitas peralatan yang yang dapat menunjang produktivitas dan kualitas dari proses produksi. Mesin-mesin yang UMKM Kota Balikpapan gunakan pada saat ini, masih belum dapat menampilkan real time data seperti suhu, waktu proses, dan otomatisasi proses. Berdasarkan data penyebaran diatas hanya sekitar 10,9% dari 147 UMKM yang menggunakan mesin berbasis komputer dan 3,4 % yang menggunakan mesin-mesin khusus yang otomatis.
Penyebab selanjutnya adalah dari kriteria Material , kriteria material yaitu terdiri dari fasilitas-fasilitas penunjang internet of things, yaitu ketersediaan internet, alat komunikasi yang digunakan, dan dukungan modal/investasi yang dapat menunjang implementasi Internet Of Things. Berikut ini merupakan hasil wawancara ke 147 UMKM untuk kriteria Material.
Figure 4. Internet Facilities Distribution SMEs.
Ketersediaan Jaringan internet di setiap UMKM sudah ada sebesar 91% dari total 147 UMKM, sementara 9% tidak ada jaringan internet. Jika penerapan Internet of Things dilakukan, maka UMKM tidak mengalami kesulitan karena sudah memiliki jaringan internet. Selanjutnya penyebab dari kriteria material untuk menunjang Internet of Things adalah jaringan media komunikasi. Media Komunikasi UMKM masih menggunakan telepon dalam pendataan dan aktivitas bisnis, hanya beberapa saja yang menggunakan email, bahkan tidak ada yang menggunakan program database untuk menunjang penerapan dari Internet Of Things.
Figure 5. Communication’s Tools Distribution SMEs.
Berdasarkan gambar diatas, dapat disimpulkan bahwa 82,3% UMKM masih menggunakan telepon LAN, email hanya di 17,7%, Microsoft Outlook terkait email perusahaan tidak ada, sementara SAP/oracle juga tidak ada. Hal ini menjadi kendala untuk penerapan Internet of Things, karena SAP dan Microsoft Outlook sangat dibutuhkan untuk konektivitas data dan pengambilan data secara real time. Kendala dari UMKM dalam media komunikasi dapat dijadikan masukan untuk strategi implementasi Internet of Things. Di sisi lainnya, modal menjadi kesulitan UMKM dalam Internet of Things , modal yang sangat sedikit, menghambat penyediaan mesin-mesin yang otomatis. Berikut ini merupakan hasil dari wawancara modal menjadi kendala dalam penerapan Internet of Things UMKM.
Figure 6. SMEs Investment Problem.
Berdasarkan data diatas, sekitar 111 (75%) UMKM mengatakan modal menjadi salah satu kendala dalam penyediaan implementasi Internet of Things, hanya 36 UMKM yang mengatakan kendala modal. Modal menjadi salah satu penyebab ketidaksiapan UMKM dalam meningkatkan mesin otomatis dan menerapkan Internet Of Things. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam penerapan Internet of Things di UMKM. Selanjutnya, penyebab ketidaksiapan UMKM dalam implementasi Internet of Things adalah kriteria Method yaitu proses produksi yang dijalankan pada UMKM. Proses produksi yang masih melibatkan banyak tenaga kerja dan dilakukan secara manual dengan tangan manusia menjadi penghambat dari implementasi Internet of Things. Berikut ini merupakan hasil wawancara dengan pelaku UMKM, terkait jenis dan kondisi proses produksi pada UMKM.
Figure 7. Production Process Criteria SMEs.
Berdasarkan gambar diatas, maka dapat disimpulkan yang menjadi kendala dari kesiapan implementasi Internet of Things pada UMKM adalah proses produksi pada setiap UMKM yang masih manual, sehingga sulit untuk mendapatkan real time data proses produksi dan spesifikasi mesin. Real Time data proses produksi dan spesifikasi mesin dan produk menjadi kriteria utama dalam implementasi Internet of Things. Faktor penyebab lainnya adalah dari kriteria Environtment, penyebab utama dari lingkungan adalah sebesar 137 UMKM masih menggunakan tinggal untuk melakukan kegiatan proses produksi sehingga kegiatan produksi ini tidak ramah lingkungan, rentan panas, dan resiko kecelakaan dan keselamatan kerja yang tinggi. Salah satu penyebab kesiapan implementasi Internet of Things adalah lingkungan kerja penyatuan proses produksi dengan rumah tinggal, hal ini menjadi perhatian dalam implementasi Internet of Things, karena jika dilakukan maka membutuhkan area yang luas untuk kabel dan tempat server UMKM.
Hasil dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kesiapan UMKM dalam implementasi Internet of Things dalam mendukung konsep kota cerdas
2. sebagai masukan strategi kebijakan untuk penerapan Internet of Things pada UMKM