- Fokus Riset: Smart City
- Ketua Peneliti: Fathiyah Rahmi Hidayat, S.T., M.P.W.K.
- Tahun Penelitian: 2025
Deskripsi
Fenomena ekspansi fungsi perkotaan kini mampu mengubah kawasan perdesaan di sekitar kawasan terbangun kota menjadi kawasan abu-abu. Kawasan ini dimaknai sebagai kawasan peri-urban yang memiliki percampuran karakteristik perkotaan dan perdesaan. Proses ini dikenal dengan peri-urbanisasi yang di dalamnya terjadi seiring dengan pesatnya globalisasi, perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan.
Fenomena peri-urbanisasi ini juga terjadi di Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) yang secara administratif terbagi menjadi 3 wilayah, yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Melalui penelitian dengan pendekatan spasial dan olah data kuantitatif ini mampu diidentifikasi delineasi kawasan dengan karakteristik periurban di KPY.
Proses penelitian diawali dengan penetapan variabel penentu pengelompokkan desa-desa di ketiga wilayah administrasi KPY melalui studi pustaka yakni kondisi tutupan lahan, kepadatan penduduk, struktur mata pencaharian, dan ketersediaan sarana transit. Hasil analisis kuantitatif menggunakan k-means clustering dihasilkan 29 desa di Kabupaten Sleman dan 54 desa di Kabupaten Bantul termasuk ke dalam kawasan periurban. Delineasi kawasan periurban di KPY adalah sebagai berikut:
- Kecamatan Minggir: (1) Desa Sendang Mulyo, (2) Desa Sendang Arum, (3) Desa Sendangagung
- Kecamatan Seyegan: (1) Desa Margomulyo; (2) Desa Margokatan
- Kecamatan Godean: (1) Desa Sidorejo; (3) Desa Sidoluhur; (4) Desa Sidomulyo; (5) Desa Sidoagung; (6) Desa Sidokarto; (7) Desa Sidoarum; (8) Desa Sidomoyo
- Kecamatan Gamping: (1) Desa Ambarketawang; (2) Desa Banyuraden; (3) Desa Nogotirto
- Kecamatan Mlati: (1) Desa Tirtoadi; (2) Desa Tlogoadi; (3) Desa Sengadi
- Kecamatan Berbah: (1) Desa Sendangtiro; (2) Desa Tegaltiro; (3) Desa Kalitirto
- Kecamatan Ngemplak: (1) Desa Wedomartani; (2) Desa Umbulmartani; (3) Desa Sindumartani
- Kecamatan Ngaglik: Desa Sariharjo
- Kecamatan Sleman: (1) Desa Catur Harjo; (2) Desa Triharjo; (3) Tridadi
- Kecamatan Tempel: Desa Margorejo
- Kecamatan Srandakan: (1) Desa Poncosari; (2) Desa Trimurti
- Kecamatan Sanden: (1) Desa Gadingsari; (2) Desa Gadingharjo
- Kecamatan Kretek: (1) Desa Parangtritis; (2) Desa Donotirto; (3) Desa Tirtomulyo
- Kecamatan Pundong: (1) Desa Panjangrejo; (2) Desa Srihardono
- Kecamatan Pandak: (1) Desa Caturharjo; (2) Desa Triharjo; (3) Desa Gilangharjo; (4) Desa Wijirejo
- Kecamatan Bantul: (1) Desa Palbapang; (2) Desa Ringin Harjo; (3) Desa Bantul; (4) Desa Trirenggo; (5) Desa Sabdodadi
- Kecamatan Imogiri: (1) Desa Sriharjo; (2) Desa Kebon Agung; (3) Desa Karang Tengah; (4) Desa Girirejo; (5) Desa Karangtalun; (6) Desa Imogiri; (7) Desa Wukirsari
- Kecamatan Dlingo: (1) Desa Muntuk; (2) Desa Temuwuh
- Kecamatan Pleret: (1) Desa Wonokromo; (2) Desa Pleret; (3) Desa Segoroyoso; (4) Desa Bawuran; (5) Desa Wonolelo
- Kecamatan Piyungan: (1) Desa Sitimulyo; (2) Desa Srimulyo; (3) Desa Srimartani
- Kecamatan Banguntapan: (1) Desa Tamanan; (2) Desa Singosaren; (3) Desa Wirokerten; (4) Desa Jambidan; (5) Desa Potorono; (6) Desa Baturetno
- Kecamatan Sewon: (1) Desa Pendowoharjo; (2) Desa Timbulharjo; (3) Desa Bangunharjo
- Kecamatan Kasihan: (1) Desa Bangujiwo; (2) Desa Tirtonirmolo; (3) Desa Tamantirto
- Kecamatan Pajangan: (1) Desa Triwidadi; (2) Desa Sendangsari; (3) Desa Guwosari
- Kecamatan Sedayu: (1) Desa Argodadi; (2) Desa Argorejo; (3) Desa Argosari; (4) Desa Argomulyo.
Hasil identifikasi kawasan peri-urban di KPY ini jika disandingkan dengan teori periurban desa-kota McGee (2009), maka struktur kota dan arah penjalarannya sesuai, hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Anggota :
Khairi Ahza Hail Keliwar, M.P.W.K.
Ummu Kultsum Muhammad, M.P.W.K.
Juwita Pramita
Manfaat
Dikotomi perdesaan dan perkotaan di Indonesia masih menjadi perdebatan. Regulasi penataan ruang di Indonesia belum mampu menjangkau ruang-ruang kawasan yang memiliki karakteristik “di antara” sehingga penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan gambaran delineasi wilayah peri-urban di Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Melalui studi ini diharapkan dapat mendeteksi dan mengendalikan rembetan kota yang tidak beraturan sehingga dapat memitigasi alih fungsi lahan pertanian. Selain itu secara sosial diharapkan dapat mengurai konflik sosial antara dikotomi desa dan kota.