Penelitian "Oceanographic Analysis of the Mahakam Samarinda Delta Waters Area, Indonesia"

  • 11 November 2021
  • Admin

Delta adalah bagian estuari yang tebentuk melalui akumulasi endapan sedimen masif di muara sungai serta respon hidrodinamis akibat pasang surut (Katsiri, dkk., 2009), sehingga menghasilkan pulau-pulau kecil dengan kekayaan ekosistem yang beragam. Delta Mahakam sendiri adalah bagian dari sungai purba yang menyimpan potensi sumberdaya melimpah seperti flora fauna endemik, nutrien hutan mangrove, sampai cadangan minyak dan gas bumi yang terbentuk dari jutaan tahun lalu. daerah ini mulai mengalami perubahan drastis semenjak dibukanya tambak udang skala besar di tahun 1990-an yang mengakibatkan deforestasi hutan mangrove serta nipah.

 

Banyak masalah yang tak pernah terduga di kawasan Delta Mahakam ini sehingga mengakibatkan efek jangka panjang dari deforestasi, contohnya banjir, penurunan kualitas air untuk perikanan dan budidaya, sedimentasi hingga abrasi (Ridlwan, dkk., 2021). Pemerintah setempat mempunyai komitmen hingga mencetuskan semangat konservasi kawasan Delta Mahakam pada World Delta Summit yang berada di Jakarta pada tahun 2011 lalu. Untuk mendukung ide ini, Dalam sepuluh tahun terakhir ini telah digalakkan upaya konservasi di kawasan Delta Mahakam. Gambar 1 menjelaskan lokasi penelitian pada Delta Mahakam.

 

Gambar 1. Delta Mahakam

 

Alur utama bagi tongkang dan kapal pengangkut batu bara atau kayu ke laut lepas adalah mahakam. Lalu lintas yang padat serta pencemaran yang tinggi turut menjadi persoalan baru yang mempengaruhi ekosistem daerah Delta Mahakam ini.

 

Tabel 1. Data Kecepatan Arus Lokas Penelitian Delta Mahakam

 

No.

 

Longitude

 

Latitude

Current Speed (m/s)

1 m depth

5 m depth

1

117°17'26"E

0°34'37"S

0,1

0,2

2

117°17'48"E

0°34'45"S

0,1

0,2

3

117°18'54"E

0°34'39"S

0,2

0,3

4

117°20'11"E

0°34'51"S

0,2

0,2

5

117°20'54"E

0°34'59"S

0,1

0,3

6

117°19'16"E

0°34'43"S

0,1

0,1

7

117°17'08"E

0°34'41"S

0,2

0,1

8

117°16'36"E

0°34'40"S

0,1

0,2

Adapun tujuan dari pengambilan data oseanografi di wilayah Delta Mahakam ini yaitu untuk mendukung pengembangan ekowisata mangrove dengan merencanakan rute kapal sarat rendah. Data-data yang dibutuhkan antara lain kecepatan arus, pasang surut dan angin.

 

Data oseanografi yang berupa data kecepatan arus, pasang surut dan angin di beberapa titik yang ditentukan akan diolah pada perangkat lunak Mike Zero sehingga menghasilkan permodelan pada data tersebut di Delta Mahakam. Ada dua metode data arus yang didapatkan pada, yaitu:

1. Metode pertama dalam data arus ini yaitu melalui website windy.com. Kemudian dihasilkan rata-rata data arus dan didapatkan hasil bahwa yang paling besar adalah di tanggal 08-07-2021 jam 2.00am, 5.00am, 7.00am, 10.00am, 11.00am dengan arus 0.2 m/s dengan arah E (Timur).

2. Dalam metode kedua ini data arus yang didapatkan adalah dari tim peneliti di Lapangan. Lalu ada 8 titik yang ingin di peroleh dari para tim peneliti di area Delta Mahakam dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut dalam table 1, diatas:

 

Data saat ini diperoleh melalui pengukuran lapangan pada kedalaman 1 dan 5 meter. Hasil pengukuran untuk kecepatan saat ini menunjukkan angka 0,1- 0,3 m/s. Tidak jauh berbeda dengan hasil data sekunder yang diperoleh melalui Copernicus dan sistem BMKG di pantai timur Kalimantan, yaitu sekitar 0,1-0,3m/s. Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa perairan Delta Mahakam tenang karena rata-rata kecepatan arus pada delta mahakam adalah 0,2 m/s (Ezzeldin, dkk., 2020). Adapun data pasang suut yang didapatkan pada grafik di Delta Mahakam yang diambil dari website tides.big.go.id terhitung dari tanggal 10 sampai dengan 25 Agustus 2021 dapat dilihat pada gambar 2.

 

Gambar 2. Grafik Delta Mahakam

 

Nilai pasang tertinggi diperolah pada 1.106 m pada 23 Agustus 2021 pukul 23.00 dan air surut terendah mencapai -0,922 m pada 24 Agustus 2021 pukul 05.00. Nilai pasang surut ini tidak jauh berbeda dengan data Juli 2021 yang telah diambil sebelumnya, yaitu 2.028 meter.

 

Data angin yang diperlukan untuk penelitian ini berupa data angin harian dari tahun 2010 sampai 2020 yang bisa didapatkan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Setelah itu, data angin tersebut dibuat windrose (mawar angin) yang menggambarkan antara kecepatan angin serta mengetahui arah angin dominan di titik pengambilan data angin yang dilakukan oleh BMKG yaitu di Stasiun Temindung. Adapun windrose berdasarkan data angin tahun 2010-2020 sebagai berikut:

 

 

Gambar 3. Windrose Data Angin Rata-rata, Blowing From (kiri) dan Windrose Data Angin Rata-rata, Blowing To (kanan)

 

Gambar 4. Windrose Data Angin Maksimum, Blowing From (kiri) dan Windrose Data Angin Maksimum, Blowing To (kanan)

 

Dari diagram windrose tersebut dapat disimpulkan bahwa arah angin terbanyak pada pengambilan data angin rata-rata di Stasiun Temindung yaitu arah dari utara ke selatan serta arah angin pada pengambilan data angin maksimum di Stasiun Temindung yaitu dari arah timur ke barat.

 

Berdasarkan data angin pada tahun 2010 - 2020 di Stasiun Temindung didapatkan data kecepatan angin rata-rata terbanyak adalah 0,50 - 2,10 m/s sedangkan data kecepatan angin maksimum terbanyak adalah 3,60 - 5,70 m/s.

 

 

 

 

 

Berdasarkan pengamatan hasil model mike 21 gambar 8 dan gambar 9 pada saat pasang tanggal 23 Agustus 2021 pukul 23.00 dengan nilai kecepatan arus 0,2-0,4 m/s dan air surut tanggal 24 Agustus 2021 dengan nilai kecepatan arus 0,15-0,3 m/s. Perbandingan dengan data survei lapangan yang dilakukan pada kedalaman 1-5 meter, hasil pengukuran kecepatan arus rata-rata sekitar 0,1-0,3 m/s. Dengan demikian perbandingan hasil data pemodelan arus menggunakan Mike 21 tidak jauh berbeda dengan survei lapangan. Berdasarkan data arus tersebut perairan tersebut dalam keadaan tidak terlalu kuat, dengan demikian untuk pengembangan ekowisata mangrove cukup bagus dan dinamika pantai tidak terlalu tinggi perubahannya (Mahmoodi, dkk., 2020).

 

Tim Peneliti:

  1. Rima Gusriana Harahap, S.T., M.T (Teknik Kelautan/JSTPK/ITK)
  2. Abiyani Choirul Huda, S.Si., M.T (Teknik Kelautan/JSTPK/ITK)
  3. Muhammad Khaisar Wirawan, S.Kel., M.Si (Teknik Kelautan/JSTPK/ITK)

AGENDA

12

Mar

Workshop Pembuatan Video Aftermovie KKN ITK
09.00 WITA s/d 12.00 WITA
Zoom Meeting : https://s.itk.ac.id/video_aftermovie

16

Feb

Scholarship Info Session : AUSTRALIA AWARDS
10.00 - 12.00 WITA
Zoom Cloud Meeting (https://s.itk.ac.id/zoom_aas)

11

Feb

Diseminasi Inovasi Edisi #1
13.30 WITA - Selesai
Via zoom meeting dan Youtube Institut Teknologi Kalimantan
Lihat Selengkapnya