Penelitian : Analisis Spectogram Letusan Vulkanik Tipe B Gunungapi Bromo di Tahun 2015

  • 14 Juni 2022
  • Admin

Penelitian - Gunungapi merupakan suatu bentuk timbulan di muka bumi, pada umumnya berupa suatu kerucut raksasa, kerucut terpacung, kubah ataupun bukit yang diakibatkan oleh penerobosan magma ke permukaan bumi. Salah satunya gunungapi yang ada di Indonesia adalah Gunungapi  Bromo. Gunung ini merupakan salah satu dari serangkaian gunungapi aktif di Indonesia yang terletak di dalam kaldera Tengger, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

 

Dalam sejarahnya, tercatat bahwa Gunung Bromo telah mengalami lebih dari 50 kali erupsi sejak tahun 1775. Berdasarkan catatan sejarah, letusan vulkanik Gunungapi Bromo mulai tercatat sejak tahun 1804, erupsinya dapat berlangsung pendek. Namun pencacatan secara kontinou oleh PVMBG di mulai dari 1980an sampai sekarang. Menurut penelitian Zaennudin di tahun 2012 ciri erupsi Gunungapi Bromo bersifat efusif dan eksplosif dari kawah pusat dengan material yang disemburkan berupa abu, pasir, lapili, dan bom gunung api. Dari mulai dilakukannya pemantauan aktivitas Gunungapi Bromo pada tahun 1986 hingga sebelum erupsi tahun 2015, ada terjadi empat kali erupsi eksplosif, yaitu pada 1995, 2000, 2004 dan 2010. Erupsi Gunungapi Bromo terkadang tidak diiringi oleh gejala awal yang jelas. Erupsinya pada umumnya berlangsung berbulan-bulan, kecuali pada saat erupsi eksplosif pada juni 2004 yang berlangsung sangat singkat hanya terjadi kurang lebih selama 20 menit.

 

 

Aktivitas vulkanik Gunungapi Bromo mulai meningkat lagi pada awal bulan Desember 2015 sampai bulan Februari 2016. Hal ini teramati secara jelas dari pemantauan visual yang dilakukan dari Pos PGA Bromo. Sebelum meningkatnya aktivitas vulkanik Gunungapi Bromo dilihat hembusan asap dari Kawah Gunungapi Bromo yang berwarna putih tipis sedang. Pada awal peningkatan aktivitas di awal bulan Desember 2015 dilihat hembusan asap yang berubah menjadi kelabu. Hembusan asap ini semakin banyak dengan mencapai ketinggian 1.800 meter di atas kawah atau sekitar 4.229 m dpl. Berdasarkan pengamatan Triastuty, dkk (2016) yang dilakukan di Pos PGA Bromo, tremor vulkanik Gunungapi Bromo secara perlahan energinya mulai meningkat ditandai dengan membesarnya amplitudo tremor vulkanik, sehingga pada 4 Desember 2015 statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada gambar diatas di tunjukan aktivitas vulkanik gunungapi Bromo.

 

Berdasarkan pengolahan data di dapatkan beberapa tipe letusan vulkanik di gunungapi Bromo. Data yang digunakan adalah data dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. Pengolahan data di lakukan dengan analisis waveform dan spectral dari sinyal yang di dapatkan. Analisis waveform merupakan analisis yang dilakukan dengan melihat pola sinyal gelombang yang terbentuk dari gempa vulkanik. Dalam analisis ini dapat membedakan jenis event gempa yang terjadi secara visual. Dengan karakteristik yang sudah di tentukan atau berdasarkan karakteristik gempa vulkanik dari minakami. Data gempa yang terekam pada seismograph berupa data yang memiliki domain waktu, sehingga perlu diterapkan fungsi tranformasi Fourier untuk mengubah domain waktu ke domain frekuensi. Pada penelitian ini, digunakan analisis FFT (Fast Fourier Transform) untuk mengetahui spektral frekuensi suatu data. Salah satu tipe letusan gunungapi Bromo adalah letusan vulkanik tipe B seperti yang di lihat di gambar dibawah ini.

 

 

Letusan vulkanik tipe B secara visual menunjukan kedatangan gelomban P dan kedatangan gelombang S yang tidak jelas. Kandungan frekuensinya dapat dilihat dari intensitas spectrum  amplitude pada spektogram. Pada intensitas spectrum amplitude  diinterpretasikan dengan warna-warna seperti yang terlihat pada Gambar spektogram di atas. Di mana warna merah memperlihatkan nillai spectrum amplitude paling rendah dan warna ungu nilainya paling tinggi. Dalam spektogram ini warna-warna ini hanya menginterpretasikan hubungan frekuensi dan waktunya. Dilihat dari hasil interpretasi pada spektogram masing-masing stasiun memiliki spectrum amplitude yang berbeda tetapi mempunyai range frekuensi yang hampir sama. Dengan mengetahui range frekuensinya maka kita dapat mengkarakterisasi tipe event gempa vulkaniknya.

 

 

LPPM - Institut Teknologi Kalimantan

AGENDA

12

Mar

Workshop Pembuatan Video Aftermovie KKN ITK
09.00 WITA s/d 12.00 WITA
Zoom Meeting : https://s.itk.ac.id/video_aftermovie

16

Feb

Scholarship Info Session : AUSTRALIA AWARDS
10.00 - 12.00 WITA
Zoom Cloud Meeting (https://s.itk.ac.id/zoom_aas)

11

Feb

Diseminasi Inovasi Edisi #1
13.30 WITA - Selesai
Via zoom meeting dan Youtube Institut Teknologi Kalimantan
Lihat Selengkapnya