Tim mahasiswa Institut Teknologi Kalimanta (ITK) melaksanakan kegiatan Inovasi Sosial di RT 11 Handil, Kelurahan Samboja Kuala, Kabupaten Kutai Kartanegara dengan mengangkat tema “Optimasi Pemanfataan Limbah Pertanian dan Peternakan Melalui Inovasi Teknologi Tepat Guna: Perancangan dan Implementasi Mesin Pencacah.” Program ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan membantu warga mengelola limbah organik secara lebih efektif melalui penyediaan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah limbah beserta fasilitas pendukungnya.
RT 11 Handil merupakan wilayah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dan peternakan. Aktivitas tersebut menghasilkan limbah organik berupa sisa tanaman, rumput, jerami, sisa pakan ternak, serta kotoran ternak dalam jumlah yang cukup besar. Namun, berdasarkan hasil observasi lapangan, limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan fasilitas pendukung untuk proses pengolahannya. Akibatnya, limbah sering kali hanya ditumpuk atau dibuang tanpa melalui proses pengolahan yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Selain belum tersedianya peralatan yang memadai, proses pencacahan limbah masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan pengelolaan limbah organik berbasis masyarakat. Padahal, limbah pertanian dan peternakan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kompos maupun pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali dalam kegiatan pertanian.
Berdasarkan kondisi tersebut, Tim Inovasi Sosial Insititut Teknologi Kalimantan menghadirkan solusi berupa penyediaan mesin pencacah limbah sebagai teknologi tepat guna yang mampu membantu masyarakat mempercepat proses pencacahan limbah organik sehingga lebih mudah diolah menjadi kompos. Program ini juga dilengkapi dengan penyediaan drum kompos, molase, dan EM4 sebagai fasilitas pendukung pengolahan limbah organik secara sederhana dan berkelanjutan.
Teknologi utama yang diterapkan dalam program ini adalah mesin pencacah limbah organik yang dirancang sebagai alat bantu untuk memperkecil ukuran limbah pertanian maupun peternakan. Melalui proses pencacahan, ukuran limbah menjadi lebih kecil sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih cepat dibandingkan limbah yang masih berukuran besar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan efektivitas proses pengomposan sekaligus mempermudah masyarakat dalam mengelola limbah organik yang dihasilkan setiap hari.
Sebagai pendukung pemanfaatan mesin pencacah, tim juga menyediakan molase, EM4, dan drum kompos. Molase berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme selama proses fermentasi, sedangkan EM4 berperan sebagai bioaktivator untuk mempercepat proses penguraian bahan organik. Drum kompos digunakan sebagai media fermentasi sehingga proses pengolahan limbah menjadi lebih tertata dan mudah dipantau oleh masyarakat.
Melalui kombinasi antara mesin pencacah dan fasilitas pendukung tersebut, masyarakat memperoleh sarana awal yang lebih lengkap dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang memiliki manfaat bagi sektor pertanian.

Tahap awal kegiatan diawali dengan observasi lapangan bersama mitra di RT 11 Handil untuk mengidentifikasi kondisi pengelolaan limbah pertanian dan peternakan. Tim melakukan diskusi bersama pengurus RT dan kelompok tani guna mengetahui kebutuhan masyarakat serta menentukan solusi yang paling sesuai dengan kondisi lapangan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan fasilitas pengolahan limbah yang sederhana, mudah digunakan, dan dapat dimanfaatkan secara bersama-sama.

Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat, tim Inovasi Sosial Institut Teknologi Kalimantan menyediakan sebuah mesin pencacah limbah organik sebagai solusi teknologi tepat guna untuk membantu mengatasi permasalahan pengelolaan limbah pertanian dan peternakan di RT 11 Handil. Pengadaan mesin ini dilakukan karena proses pencacahan limbah sebelumnya masih dilakukan secara manual menggunakan alat sederhana, sehingga membutuhkan waktu yang lama, tenaga yang besar, dan hasil cacahan yang kurang seragam. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat kurang optimal dalam memanfaatkan limbah organik sebagai bahan baku pembuatan kompos.
Mesin yang disediakan merupakan mesin pencacah portable berbahan bakar bensin dengan daya 6,5 HP, kapasitas mesin 196 cc, serta kapasitas produksi mencapai 100–180 kg limbah organik per jam. Mesin ini dirancang agar mudah dioperasikan oleh masyarakat dan mampu mencacah berbagai jenis limbah organik seperti rumput, daun, jerami, batang tanaman, serta sisa hasil pertanian lainnya menjadi potongan berukuran sekitar 1–3 cm. Ukuran cacahan yang lebih kecil akan memperbesar luas permukaan bahan sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung lebih cepat dibandingkan limbah yang tidak dicacah.
Selain menyediakan mesin pencacah, tim juga melengkapi program dengan berbagai sarana pendukung yang diperlukan dalam proses pembuatan kompos. SaranaSelain menyediakan mesin pencacah, tim juga melengkapi program dengan berbagai sarana pendukung yang diperlukan dalam proses pembuatan kompos. Sarana tersebut meliputi drum kompos, EM4 (Effective Microorganisms 4), dan molase sebagai bahan aktivator fermentasi. Penyediaan fasilitas ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya memiliki alat pencacah limbah, tetapi juga dapat langsung mengolah hasil cacahan menjadi pupuk kompos yang siap dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Drum kompos digunakan sebagai wadah proses fermentasi sehingga pengolahan limbah organik dapat berlangsung dengan lebih teratur dan mudah dikendalikan. Sementara itu, EM4 berfungsi sebagai bioaktivator yang mengandung berbagai mikroorganisme pengurai untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Molase digunakan sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme sehingga aktivitas fermentasi dapat berlangsung secara optimal.
Dalam kegiatan sosialisasi, tim juga memberikan penjelasan mengenai tahapan pembuatan kompos menggunakan bahan-bahan tersebut. Sebanyak 100 mL EM4 dan 100 gram molase dilarutkan ke dalam 10 liter air bersih, kemudian larutan tersebut disemprotkan secara merata pada 100 kg limbah organik hasil pencacahan. Setelah itu, bahan diaduk hingga mencapai kelembapan sekitar 50–60%, dimasukkan ke dalam drum kompos, dan difermentasi selama 3–6 minggu dengan pembalikan setiap 5–7 hari agar proses penguraian berlangsung secara optimal.
Setelah seluruh fasilitas dipersiapkan, tim Inovasi Sosial Institut Teknologi Kalimantan melaksanakan kegiatan sosialisasi sekaligus penyerahan mesin pencacah, drum kompos, EM4, dan molase kepada masyarakat RT 11 Handil. Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada Ketua RT dan perwakilan kelompok tani sebagai bentuk dukungan terhadap pengelolaan limbah organik berbasis masyarakat. Pada kesempatan ini, tim juga menjelaskan tujuan program serta manfaat penerapan teknologi tepat guna dalam mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk kompos.
Selain penyerahan fasilitas, tim memberikan demonstrasi mengenai cara mengoperasikan mesin pencacah dengan benar dan aman. Masyarakat juga diberikan penjelasan mengenai tahapan pembuatan kompos, mulai dari proses pencacahan limbah, pencampuran EM4 dan molase sebagai aktivator, hingga proses fermentasi dan perawatan kompos agar menghasilkan pupuk organik yang berkualitas.

Melalui implementasi teknologi tepat guna berupa mesin pencacah limbah organik, Institut Teknologi Kalimantan berkomitmen menghadirkan solusi inovatif yang mampu membantu masyarakat mengelola limbah pertanian dan peternakan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya menyediakan fasilitas pendukung pengolahan limbah, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan limbah organik sebagai kompos yang bernilai guna.