Usaha mikro kecil menengah (UMKM) kelompok Ma’Oleh di Kampung Banyumas, kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara merupakan salah satu kelompok usaha kemasyarakatan yang bergerak pada bidang budidaya dan pengolahan perikanan, khususnya ikan lele. Kegiatan usaha yang dilakukan kelompok ini tidak hanya berpotensi dalam meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha pangan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Ikan lele dipilih sebagai komoditas utama karena memiliki potensi ekonomi yang besar didukung dengan kandungan proteinnya yang tinggi, relatif mudah dibudidayakan karena siklus produksi yang cukup cepat dan harganya yang cukup terjangkau sehingga memiliki pasar yang luas.
Meskipun memiliki potensi tersebut, dalam pelaksanaan kegiatan usahanya kelompok Ma’Oleh masih menghadapi sejumlah kendala yang dapat menghambat peningkatan produktivitas dan pengembangan usaha. Pada aspek budidaya, proses pemberian pakan ikan masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut menyebabkan pemberian pakan sangat bergantung pada ketersediaan waktu dan tenaga peternak. Selain itu pada aspek hilir pemanfaatan ikan lele sebagai bahan baku produk pangan masih relatif terbatas sehingga diperlukan inovasi produk untuk meningkatkan nilai tambah komoditas. Dari sisi manajemen usaha pencatatan inventaris juga belum terdigitalisasi secara optimal, sehingga proses pemantauan ketersediaan bahan baku, resep maupun transaksi barang masih kurang efisien.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menghadirkan program pemberdayaan yang mengintegrasikan teknologi tepat guna, inovasi pengolahan pangan, dan digitalisasi manajemen usaha. Program ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh dari aspek hulu hingga hilir, sehingga teknologi yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan efisiensi produksi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk serta mendukung pengelolaan usaha yang lebih sistematis.
Pada aspek budidaya, pendekatan smart-processing diterapkan melalui penggunaan alat pemberi pakan ikan otomatis. Teknologi ini dirancang untuk membantu mitra dalam mengatur pemberian pakan secara lebih terjadwal dan konsisten. Dengan adanya sistem pemberian pakan otomatis, ketergantungan terhadap proses pemberian pakan secara manual dapat dikurangi, sehingga waktu dan tenaga anggota kelompok dapat dialokasikan untuk kegiatan usaha lainnya. Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung pengelolaan budidaya ikan lele yang lebih teratur.

Alat pemberi pakan otomatis
Selain meningkatkan efisiensi pada tahap budidaya, program juga berfokus pada pengembangan produk olahan berbasis ikan lele sebagai upaya peningkatan nilai tambah komoditas. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah siomay lele tanpa tepung. Produk ini memanfaatkan daging ikan lele sebagai bahan utama dengan penambahan bahan pangan lokal berupa wortel dan labu. Wortel dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pembentuk dan pengikat adonan sehingga dapat membantu mempertahankan struktur produk tanpa penggunaan tepung, sedangkan labu digunakan untuk membantu menghasilkan tekstur siomay yang lebih lembut. Pengembangan produk tersebut diharapkan dapat menghasilkan alternatif pangan olahan yang memiliki karakteristik berbeda dari produk siomay pada umumnya sekaligus meningkatkan pemanfaatan ikan lele sebagai bahan baku pangan bernilai tambah.

Inovasi produk siomay lele tanpa tepung berbasis wortel dan labu
Pengembangan produk tidak berhenti pada formulasi dan proses pengolahan, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapan produk sebagai bagian dari usaha mitra. Melalui inovasi ini, ikan lele yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan sebagai komoditas hasil budidaya dapat diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Diversifikasi tersebut juga membuka peluang bagi kelompok Ma’Oleh untuk memperluas jenis produk yang ditawarkan kepada konsumen serta meningkatkan potensi pemasaran hasil budidaya secara langsung melalui produk olahan.

Website Inventaris Digital Ma’oleh
Sementara itu, pada aspek manajemen usaha, dilakukan digitalisasi pencatatan melalui penerapan website inventaris digital. Aplikasi tersebut dikembangkan untuk membantu mitra melakukan pencatatan dan pemantauan inventaris secara lebih terstruktur. Informasi yang sebelumnya berpotensi tersebar dalam pencatatan manual dapat dikelola dalam satu sistem sehingga memudahkan mitra dalam mengetahui ketersediaan bahan baku, mengakses data resep, serta mencatat transaksi barang. Digitalisasi ini diharapkan dapat meningkatkan ketepatan pencatatan, mempermudah pemantauan keluar-masuk barang, serta mendukung proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan usaha.
Integrasi antara teknologi tepat guna, inovasi produk pangan, dan digitalisasi manajemen menjadi pendekatan utama dalam program pemberdayaan kelompok Ma’Oleh. Penerapan teknologi pada aspek budidaya membantu meningkatkan efisiensi proses produksi, sementara inovasi pengolahan memberikan peluang peningkatan nilai tambah hasil perikanan. Di sisi lain, digitalisasi manajemen membantu membangun sistem pengelolaan usaha yang lebih tertata dan mudah dipantau. Dengan demikian, program tidak hanya berorientasi pada penyelesaian permasalahan jangka pendek, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelompok dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, kelompok Ma’Oleh diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kemampuan inovasi dalam menjalankan usahanya. Pemanfaatan teknologi tepat guna dan sistem digital juga diharapkan dapat mendorong transformasi usaha dari pengelolaan yang masih konvensional menuju pengelolaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pada akhirnya, peningkatan kapasitas produksi dan diversifikasi produk diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas, meningkatkan nilai ekonomi hasil budidaya ikan lele, serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan anggota kelompok dan masyarakat sekitar.
Program pengabdian kepada masyarakat ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan produktivitas, pengembangan inovasi usaha, dan penguatan potensi ekonomi masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok masyarakat dalam penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, serta inovasi untuk menjawab permasalahan nyata di tingkat masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan mitra, tetapi juga membangun fondasi bagi keberlanjutan dan kemandirian usaha kelompok Ma’Oleh.