Di era modern saat ini, memiliki website dan media sosial yang aktif telah menjadi kebutuhan mutlak bagi sebuah lembaga baru untuk membangun kepercayaan dan legitimasi di mata publik. Menjawab tantangan itu, mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) lewat program Inovasi Sosial menerapkan strategi digital branding pada Yayasan Borneo BioCulture Foundation (BBF). Program ini dirancang khusus sebagai wujud kontribusi untuk memperkuat identitas kelembagaan yayasan serta membangun pusat informasi resmi yang kredibel di ruang digital.
Inovasi Sosial ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa Program Studi Informatika dan Desain Komunikasi Visual (DKV), dengan pendampingan dosen Faisal Syamsuddin S.Pd., M.Sn. Rangkaian kegiatannya berawal dari identifikasi lapangan yang menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan yayasan yang baru dirintis ini akan fondasi komunikasi yang terpadu. Pembangunan identitas ini bukan hanya untuk membuat BBF terus berkembang dan dikenal luas, melainkan hal yang lebih utama adalah agar yayasan memiliki legitimasi dan kredibilitas terpercaya untuk mengangkat aneka potensi lokal di sekitarnya. Dengan branding yang kuat, BBF diharapkan mampu secara optimal menaungi dan mempromosikan potensi lokal yang ada berada di sekitar kesekretariatan yayasan seperti fasilitas perkemahan, kolam pemancingan, hingga aktivitas komunitas kreatif pemuda setempat.
Strategi yang dijalankan tim mahasiswa berfokus pada perancangan website dinamis dan pengelolaan media sosial resmi yayasan. Ekosistem digital ini dirancang sebagai etalase utama yang menampilkan profil BBF, visi misi, serta menjadi sarana komunikasi publik. Selain membangun kehadiran di ruang digital, tim juga memetakan lokasi fisik BBF di Google Maps dan memasang papan petunjuk arah langsung untuk menegaskan eksistensi yayasan, sekaligus memudahkan akses bagi mitra maupun masyarakat luas.

Sebagai langkah promosi lanjutan, tim Inovasi Sosial BBF tidak hanya berkutat di dunia digital, tetapi juga terjun ke lapangan. Mereka melakukan demonstrasi pemanfaatan limbah tutup botol plastik yang diubah menjadi produk bermanfaat berupa gantungan kunci. Kegiatan pelestarian lingkungan ini sekaligus dijadikan momen strategis untuk memperkenalkan BBF secara langsung kepada publik. Nama yayasan pun makin meluas ketika profil BBF beserta karya daur ulang gantungan kuncinya ikut dipamerkan dalam acara Barinting, sebuah pameran karya yang diselenggarakan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual ITK.

Ketua tim inovasi sosial, Faqih Chairul Anam, menjelaskan bahwa pengembangan branding ini melewati proses yang cukup panjang, mulai dari observasi wilayah, penentuan identitas visual seperti logo dan warna, perancangan antarmuka website, aktivasi pameran, hingga peluncuran platform. "Lewat program ini, fokus kami bukan sekadar membuat akun lalu selesai. Kami berupaya meletakkan fondasi identitas yang terpercaya bagi yayasan yang sedang dirintis ini. Infrastruktur digital dan perkenalan di ruang publik ini kami proyeksikan untuk terus hidup sebagai wajah resmi BBF yang profesional" ujar Faqih.
Kehadiran ekosistem digital dan identitas visual yang baru ini disambut positif oleh pengurus Yayasan Borneo BioCulture Foundation. Dengan adanya website resmi, media sosial yang tertata, serta titik lokasi yang akurat di Google Maps, yayasan kini memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk meyakinkan publik. Hal ini secara langsung meningkatkan kepercayaan diri pengurus dalam menjalin kemitraan, baik dengan instansi pemerintah, komunitas lain, maupun donatur potensial yang ingin berkontribusi pada pengembangan kawasan KM 17.
Kehadiran ekosistem digital dan identitas visual yang baru ini disambut positif oleh pengurus Yayasan Borneo BioCulture Foundation. Dengan adanya website resmi, media sosial yang tertata, serta titik lokasi yang akurat di Google Maps, yayasan kini memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk meyakinkan publik. Hal ini secara langsung meningkatkan kepercayaan diri pengurus dalam menjalin kemitraan, baik dengan instansi pemerintah, komunitas lain, maupun donatur potensial yang ingin berkontribusi pada pengembangan kawasan KM 17.
Kegiatan Inovasi Sosial yang diselenggarakan oleh kolaborasi mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan bersama Yayasan Borneo BioCulture Foundation (BBF) merupakan wujud nyata kontribusi akademisi dalam memperkuat kapasitas kelembagaan mitra. Program ini menitikberatkan pada transformasi digital yayasan, optimalisasi promosi potensi daerah, serta edukasi daur ulang limbah secara kreatif. Adapun manfaat spesifik yang dihasilkan dari pelaksanaan kegiatan ini meliputi: