Detail Pengabdian


Inovasi Sosial Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Paving Block Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Pantai Seraya

Tahun 2026 Ketua: Sarah Membala, S.Ars., M.URP | Maryo Inri Pratama, S.T., M.T. | Khairunnisa Adhar, S.T., M.Sc. PMMD
Inovasi Sosial Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Paving Block Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Pantai Seraya

Pada pelaksanaan kegiatan Inovasi Sosial, tim telah melaksanakan program SERASI (Seraya Inovasi Sosial Paving Plastik) yang berfokus pada pengelolaan sampah plastik menjadi paving block di kawasan Pantai Seraya RT 28, Kelurahan Sepinggan Raya, Kecamatan Balikpapan Selatan. Program ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah plastik yang mencemari kawasan pesisir, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah, serta memberikan keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi. Kegiatan yang telah dilakukan meliputi:

Pertemuan awal dilaksanakan sebagai langkah awal pelaksanaan program SERASI dengan memperkenalkan anggota tim Inovasi Sosial kepada Ketua RT 28 dan masyarakat setempat selaku mitra kegiatan. Pada pertemuan ini, tim menyampaikan maksud dan tujuan program, melakukan diskusi terkait kondisi lingkungan Pantai Seraya, serta mengidentifikasi permasalahan utama yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait tingginya volume sampah plastik di kawasan pantai dan permukiman. Selain itu, tim juga membahas rencana pelaksanaan program berupa pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah plastik menjadi paving block yang diharapkan dapat memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat. 

Observasi lapangan merupakan salah satu tahapan awal yang dilaksanakan dalam Program SERASI untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi lingkungan dan permasalahan pengelolaan sampah di kawasan Pantai Seraya. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi lokasi secara langsung untuk mengamati karakteristik kawasan pesisir, kondisi permukiman masyarakat, pola aktivitas warga, serta sistem pengelolaan sampah yang selama ini diterapkan. Selain itu, tim juga melakukan dokumentasi lapangan sebagai bahan analisis dalam penyusunan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selama proses observasi, tim mengidentifikasi berbagai sumber timbulan sampah plastik yang berasal dari aktivitas rumah tangga, kegiatan perdagangan, serta aktivitas masyarakat di kawasan pantai. Sampah plastik yang ditemukan didominasi oleh kemasan makanan dan minuman, kantong plastik, botol plastik, serta berbagai jenis plastik sekali pakai yang tersebar di lingkungan permukiman maupun di sepanjang kawasan pesisir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang cukup serius dan memerlukan upaya penanganan yang lebih efektif serta berkelanjutan. Selain mengidentifikasi permasalahan sampah, tim juga melakukan peninjauan terhadap lokasi yang akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan praktik pembuatan paving block berbahan sampah plastik. Penentuan lokasi mempertimbangkan beberapa aspek, seperti kemudahan akses bagi masyarakat, ketersediaan ruang yang memadai, keamanan selama proses pelatihan, serta kelayakan lokasi untuk menempatkan peralatan produksi. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa lokasi yang dipilih telah memenuhi kebutuhan pelaksanaan program dan mampu menampung seluruh rangkaian kegiatan yang direncanakan. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, namun masih menghadapi keterbatasan dalam hal pengetahuan, keterampilan, dan sarana untuk mengelola sampah plastik menjadi produk yang bernilai guna. Pengelolaan sampah selama ini masih berfokus pada pengumpulan dan pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga potensi pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan baku produk daur ulang belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan hasil observasi lapangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kawasan Pantai Seraya memiliki potensi yang besar untuk penerapan Program SERASI. Tingginya timbulan sampah plastik serta kebutuhan masyarakat akan solusi pengelolaan sampah yang lebih inovatif menjadi dasar pelaksanaan program ini. Oleh karena itu, kegiatan observasi tidak hanya memberikan informasi mengenai kondisi eksisting kawasan, tetapi juga menjadi acuan dalam menyusun strategi pelaksanaan program agar sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan masyarakat, sehingga tujuan program dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah sampah plastik dapat tercapai secara optimal.

 

 

Gambar 1. Dokumentasi observasi lokasi Pantai Seraya

 

 

Tahap analisis kebutuhan dan identifikasi masalah merupakan langkah awal yang dilakukan untuk mengetahui kondisi eksisting masyarakat serta permasalahan utama yang dihadapi terkait pengelolaan sampah plastik di kawasan Pantai Seraya. Kegiatan ini dilaksanakan melalui observasi lapangan, wawancara, dan diskusi bersama masyarakat serta pihak terkait. Observasi dilakukan dengan mengamati kondisi lingkungan sekitar, pola pengelolaan sampah yang telah diterapkan, serta potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung pelaksanaan Program SERASI. Berdasarkan hasil observasi, ditemukan bahwa sampah plastik masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang cukup dominan. Sampah plastik banyak ditemukan di kawasan pantai, sepanjang jalan lingkungan, maupun di sekitar pemukiman warga akibat tingginya penggunaan plastik sekali pakai serta rendahnya tingkat pemilahan sampah dari sumbernya. Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah yang tidak hanya mengurangi estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi mencemari perairan, mengganggu ekosistem pesisir, dan menurunkan kualitas lingkungan tempat tinggal masyarakat. Hasil diskusi bersama masyarakat menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan masih terbatas pada pengumpulan dan pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Belum terdapat sistem pengolahan sampah yang mampu memberikan nilai tambah, khususnya untuk sampah plastik yang jumlahnya terus meningkat setiap hari. Selain itu, masyarakat juga menyampaikan bahwa mereka belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan yang memadai mengenai teknologi sederhana yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai ekonomi. Analisis kebutuhan juga mengidentifikasi bahwa masyarakat memerlukan pendampingan dalam bentuk edukasi mengenai pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, pelatihan teknis pengolahan sampah plastik, serta penyediaan peralatan pendukung yang dapat digunakan dalam proses produksi. Dengan adanya dukungan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah plastik yang berakhir di TPA sekaligus memanfaatkan limbah tersebut sebagai bahan baku produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Selain aspek lingkungan, tim juga mengidentifikasi adanya potensi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan keterampilan dalam memproduksi paving block berbahan sampah plastik. Inovasi ini dinilai sesuai dengan kondisi wilayah yang memiliki ketersediaan sampah plastik cukup melimpah dan dapat menjadi alternatif solusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Produk paving block yang dihasilkan berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan infrastruktur sederhana di lingkungan sekitar maupun dikembangkan sebagai produk yang memiliki nilai komersial. Berdasarkan keseluruhan hasil identifikasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi masyarakat meliputi tingginya volume sampah plastik di kawasan pesisir dan permukiman, belum optimalnya sistem pengelolaan sampah berbasis pemanfaatan kembali (reuse dan recycle), rendahnya pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai tambah, serta masih tingginya ketergantungan terhadap sistem pengangkutan sampah menuju TPA. Hasil analisis kebutuhan ini kemudian menjadi dasar dalam penyusunan Program SERASI sebagai solusi yang mengintegrasikan aspek edukasi, pelatihan, inovasi teknologi sederhana, dan pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan sampah plastik menjadi paving block yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.

Tim melakukan survei kebutuhan alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses pembuatan paving block berbahan sampah plastik. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis, spesifikasi, dan jumlah peralatan serta bahan pendukung yang diperlukan agar proses produksi dapat berjalan secara efektif dan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan. Peralatan yang diidentifikasi meliputi cetakan paving block, alat pengaduk besi, kompor mata seribu sebagai media pemanas, timbangan digital untuk mengukur komposisi bahan, drum besi sebagai wadah pelelehan plastik, serta ember sebagai wadah pemilahan sampah plastik sebelum diproses. Selain itu, tim juga mengidentifikasi kebutuhan bahan utama dan pendukung, yaitu pasir sebagai material campuran, oli untuk membantu proses pencetakan, serta perlengkapan keselamatan kerja berupa sarung tangan kulit, sarung tangan kain, dan masker guna melindungi anggota tim selama proses produksi. Hasil survei ini menjadi dasar dalam pengadaan alat dan bahan sehingga seluruh kebutuhan teknis dapat dipenuhi sebelum pelaksanaan kegiatan pembuatan paving block dimulai.

 

 

Gambar 2. Dokumentasi survei alat dan bahan

 

Sosialisasi Program SERASI (Seraya Inovasi Sosial Paving Plastik) merupakan tahapan awal yang bertujuan untuk memperkenalkan program kepada masyarakat sekaligus membangun pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik secara berkelanjutan. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat, perangkat setempat, serta kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program. Pada tahap ini, tim pelaksana menjelaskan latar belakang pelaksanaan program, permasalahan sampah plastik yang terjadi di kawasan pesisir, serta dampak negatif yang ditimbulkan apabila sampah plastik tidak dikelola dengan baik terhadap lingkungan, kesehatan dan aktivitas masyarakat. Selain menjelaskan permasalahan yang ada, tim juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular sebagai solusi dalam mengurangi timbulan sampah plastik melalui pemanfaatan kembali limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Salah satu bentuk implementasi konsep tersebut adalah pengolahan sampah plastik menjadi paving block yang memiliki nilai guna serta dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lingkungan sekitar. Tim menjelaskan secara rinci tahapan pelaksanaan program mulai dari proses pengumpulan sampah plastik, pemilahan, pengolahan hingga menjadi paving block yang siap digunakan. Dalam kegiatan sosialisasi ini juga disampaikan manfaat yang akan diperoleh masyarakat apabila program dapat berjalan secara berkelanjutan, di antaranya meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, berkurangnya pencemaran akibat sampah plastik, terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat, serta terbukanya peluang pengembangan usaha berbasis pengelolaan sampah. Selain itu, masyarakat diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan maupun kendala yang selama ini dihadapi dalam pengelolaan sampah di lingkungan sekitar. Melalui kegiatan sosialisasi tersebut diharapkan seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dan manfaat Program SERASI, sehingga masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan. Antusiasme peserta selama kegiatan menunjukkan adanya respon positif terhadap inovasi yang ditawarkan dan menjadi modal awal dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan program.

 

 

Gambar 3. Dokumentasi sosialisasi program SERASI

 

Sebelum kegiatan pelatihan dilaksanakan, tim terlebih dahulu memberikan pre-test kepada seluruh peserta sebagai langkah awal untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah plastik, konsep ekonomi sirkular, serta proses pembuatan paving block berbahan sampah plastik. Pre-test disusun dalam bentuk beberapa pertanyaan sederhana yang berkaitan dengan jenis-jenis sampah plastik, dampak pencemaran lingkungan akibat sampah plastik, proses pengolahan sampah, serta manfaat produk hasil daur ulang. Pelaksanaan pre-test bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi awal pengetahuan peserta sehingga tim dapat menyesuaikan metode penyampaian materi selama pelatihan berlangsung. Selain itu, hasil pre-test nantinya digunakan sebagai pembanding dengan hasil post-test untuk mengetahui sejauh mana peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Selama pelaksanaan pre-test, peserta mengisi lembar pertanyaan secara mandiri dengan pendampingan dari tim apabila terdapat pertanyaan yang kurang dipahami. Berdasarkan hasil pengamatan, sebagian besar peserta telah mengetahui bahwa sampah plastik dapat mencemari lingkungan, namun masih banyak yang belum memahami bahwa sampah tersebut dapat diolah menjadi produk konstruksi seperti paving block yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi tim untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif pada sesi pelatihan.

 

Sebelum melaksanakan kegiatan pelatihan kepada masyarakat, tim harus melakukan percobaan terlebih dahulu untuk mencari komposisi yang pas untuk mendapatkan hasil paving block yang paling baik. Dalam masa percobaan, telah dilakukan 3 (tiga) kali masa percobaan yang dimana masing masing masa percobaan memiliki komposisi dan hasil yang berbeda. Pada percobaan pertama komposisi bahan diutamakan dengan menitikberatkan pada tidak diseimbangkan dengan ukuran bahan lainnya, yang kemudian menyebabkan sampah plastik malah menggumpal dan hasil dari paving block nya mudah hancur dan tidak rapi padahal telah menggunakan cetakan dan alat pres. Kemudian pada percobaan kedua, dilakukan perubahan komposisi dimana perbandingan sampah dan pasir yang tadinya 1000 gram : 200 gram menjadi 800 gram sampah plastik dan 400 gram pasir, yang hasilnya lebih baik dibandingkan dengan percobaan pertama karena lebih rapi dan sampah plastik nya tidak lagi menggumpal, tetapi hasil nya melebihi ukuran dari cetakan paving block, yang berarti masih perlu penyesuaian. Lalu percobaan terakhir yaitu yang ketiga dilakukan perubahan ukuran jumlah total bahan yang awalnya 1200 gram menjadi di angka 1000 gram, yang kemudian hasil nya lebih sesuai dengan ukuran cetakan paving block dan menjadi lebih padat di bagian tengah, ukuran final pada percobaan ketiga diubah menjadi 500 gram sampah plastik dan 500 gram pasir yang menghasilkan tekstur paving block lebih halus dan terlihat lebih rapi dibandingkan  hasil dua percobaan sebelumnya. Untuk jumlah oli yang digunakan tidak ada perubahan sejak percobaan pertama yaitu sekitar 800 ml hingga 1 L, menyesuaikan dengan ketebalan dari sampah plastik yang digunakan, semakin tebal maka semakin banyak oli yang digunakan untuk melelehkan sampah plastik nya.

 

Pelatihan pembuatan paving block berbahan sampah plastik merupakan kegiatan inti dalam Program SERASI yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi. Kegiatan ini dilaksanakan secara praktik langsung dengan pendampingan dari tim pelaksana sehingga setiap peserta dapat memahami seluruh proses produksi secara menyeluruh.

 

Tahap pertama pelatihan diawali dengan pemberian penjelasan mengenai jenis-jenis sampah plastik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku paving block. Tim menjelaskan bahwa tidak semua jenis plastik dapat digunakan, sehingga peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan proses identifikasi dan pemilahan sampah plastik berdasarkan karakteristiknya. Sampah plastik yang telah dipilih kemudian dibersihkan dari kotoran yang menempel dan dikeringkan agar tidak mempengaruhi kualitas hasil produksi.

 

Tahap kedua adalah persiapan alat dan bahan. Pada tahap ini tim memperkenalkan fungsi setiap peralatan yang akan digunakan, seperti drum besi sebagai wadah pelelehan, kompor mata seribu sebagai sumber panas, alat pengaduk besi untuk mencampur material, cetakan paving block, timbangan digital, serta perlengkapan keselamatan kerja berupa sarung tangan dan masker. Selain itu, disiapkan pula bahan utama berupa sampah plastik, pasir, dan oli yang digunakan untuk membantu proses pelelehan plastik.

 

Tahap ketiga yaitu proses pelelehan sampah plastik. Sampah plastik yang telah dipilah dimasukkan ke dalam drum besi yang dipanaskan menggunakan kompor mata seribu. Pada tahap ini peserta diajarkan pentingnya menjaga kestabilan suhu agar plastik dapat meleleh secara merata tanpa mengalami pembakaran yang berlebihan. Tim juga menjelaskan bahwa kebutuhan oli pada proses pelelehan disesuaikan dengan ketebalan dan jumlah sampah plastik yang digunakan sehingga proses pelelehan berlangsung lebih optimal.

 

Setelah plastik meleleh sempurna, kegiatan dilanjutkan ke tahap keempat yaitu pencampuran material. Plastik cair kemudian dicampurkan dengan pasir sambil terus diaduk hingga menghasilkan campuran yang homogen. Pada tahap ini peserta diberi kesempatan untuk mencoba beberapa komposisi campuran sebagai bagian dari proses pembelajaran. Tim menjelaskan bahwa komposisi bahan sangat menentukan kualitas paving block yang dihasilkan, sehingga proses pencampuran harus dilakukan secara hati-hati dan merata.

 

Tahap kelima adalah proses pencetakan paving block. Campuran plastik dan pasir yang telah homogen kemudian dituangkan ke dalam cetakan paving block dan dipadatkan agar tidak terdapat rongga udara di dalam campuran. Setelah itu, cetakan didiamkan hingga material mulai mengeras sebelum paving block dilepaskan dari cetakan. Tim memberikan arahan mengenai teknik pencetakan yang benar agar bentuk paving block seragam dan memiliki permukaan yang rapi.

 

Tahap terakhir yaitu evaluasi hasil praktik. Paving block yang telah dicetak diamati bersama untuk mengetahui kualitas hasil produksi, mulai dari bentuk, kepadatan, hingga kekuatan produk. Apabila ditemukan hasil yang belum sesuai, tim menjelaskan penyebabnya, seperti komposisi campuran yang kurang tepat atau proses pencampuran yang belum homogen, kemudian dilakukan perbaikan pada percobaan berikutnya. Melalui tahapan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam mengolah sampah plastik menjadi paving block sehingga diharapkan mampu menerapkan keterampilan tersebut secara mandiri.

 

Post-test dilaksanakan pada akhir rangkaian kegiatan pelatihan sebagai bentuk evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman dan peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti Program SERASI. Kegiatan ini dilakukan menggunakan instrumen yang sama atau setara dengan pre-test sehingga hasil yang diperoleh dapat dibandingkan secara objektif. Pelaksanaan post-test diikuti oleh seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan praktik pembuatan paving block. Peserta mengisi lembar evaluasi secara mandiri dengan pendampingan dari tim apabila terdapat pertanyaan yang kurang dipahami. Berdasarkan hasil evaluasi, terlihat adanya peningkatan pemahaman peserta dibandingkan sebelum pelatihan dilaksanakan. Hasil post-test menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang telah dilaksanakan berhasil meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik. Peningkatan hasil evaluasi ini menjadi indikator bahwa Program SERASI mampu memberikan transfer pengetahuan dan keterampilan kepada peserta, sehingga diharapkan masyarakat dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh secara mandiri serta mengembangkan kegiatan pengolahan sampah plastik sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan.

 

Kegiatan penutupan merupakan tahapan akhir dari seluruh rangkaian Program SERASI yang dilaksanakan sebagai bentuk evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan sekaligus penyerahan hasil program kepada masyarakat. Pada tahap ini, tim pelaksana bersama mitra dan peserta melakukan refleksi terhadap seluruh proses yang telah dilaksanakan, mulai dari kegiatan sosialisasi, pelatihan, hingga praktik pembuatan paving block berbahan sampah plastik. Tim memaparkan hasil pelaksanaan program, capaian yang berhasil diperoleh, serta perubahan yang terlihat pada tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Selain itu, peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesan, saran, dan masukan mengenai pelaksanaan program sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan kegiatan serupa pada masa mendatang. Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, dilakukan serah terima hasil kegiatan berupa peralatan pendukung dan produk paving block yang telah dihasilkan selama proses pelatihan kepada mitra atau perwakilan masyarakat. Penyerahan tersebut diharapkan dapat menjadi modal awal bagi masyarakat untuk terus melanjutkan kegiatan pengolahan sampah plastik secara mandiri sehingga manfaat program tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Pada akhir kegiatan dilakukan dokumentasi bersama seluruh peserta sebagai simbol keberhasilan pelaksanaan Program SERASI. Tim juga menyampaikan harapan agar masyarakat tetap menjaga komitmen dalam mengelola sampah plastik secara berkelanjutan, mengembangkan inovasi yang telah diperoleh, serta menjadikan pengolahan sampah sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesisir yang lebih bersih, sehat, produktif dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Tim Pengabdi

  1. Muhammad Anang Faddilah (Perencanaan Wilayah dan Kota)
  2. Annur Tisya Yusriani (Teknik Sipil)
  3. Juan Farand Turuallo (Teknik Sipil)
  4. M. Auliansyah Putra Pratama (Teknik Sipil)
  5. Nasywa Juni Adiputri (Teknik Sipil)
  6. Bima Arga Dwiwarman (Perencanaan Wilayah dan Kota)
  7. Dwi Novita Puspasari (Perencanaan Wilayah dan Kota)
  8. Muhammad Fahmi Ramadhan (Perencanaan Wilayah dan Kota)
  9. Muhammad Zaidan Zaira (Perencanaan Wilayah dan Kota)
  10. Nadira Octaviana (Perencanaan Wilayah dan Kota)

Manfaat Pengabdian

1. Penerapan teknologi sederhana dalam pengolahan sampah plastik menjadi paving block membantu masyarakat memanfaatkan limbah plastik yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

2. Kegiatan pelatihan pembuatan paving block memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat mengenai proses pemilahan, pengolahan, hingga pencetakan paving block berbahan dasar sampah plastik sehingga masyarakat mampu menerapkannya secara mandiri.

3. Kegiatan sosialisasi meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik sejak dari sumbernya, serta mendorong perubahan perilaku untuk mengurangi pencemaran lingkungan di kawasan Pantai Seraya.

4. Pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan baku paving block dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) maupun yang mencemari kawasan pesisir, sehingga mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

5. Program ini mendorong terbentuknya kesadaran masyarakat mengenai penerapan ekonomi sirkular, di mana sampah plastik tidak lagi dipandang sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat.

6. Produk paving block yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas lingkungan, seperti jalur pejalan kaki, area parkir, dan ruang publik, serta berpotensi dikembangkan sebagai produk yang memiliki nilai jual sehingga dapat membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.

8. Kegiatan pengabdian juga memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan di masyarakat, sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.