Komoditas hortikultura seperti pepaya dan tomat memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan serta perekonomian masyarakat. Namun, karakteristik kedua komoditas tersebut yang mudah mengalami kerusakan setelah panen sering menjadi tantangan bagi petani. Selama proses penyimpanan dan distribusi, buah dapat mengalami pelunakan tekstur, penyusutan bobot, memar, hingga pembusukan yang menyebabkan penurunan kualitas dan nilai jual produk. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi sekaligus meningkatkan angka kehilangan pangan (food loss) pada tingkat petani.

Gambar 1. Mekanisme Bio-coating pada buah dan sayuran
Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan melaksanakan program inovasi sosial BIOKASA (Bio-coating Organik untuk Pengurangan Kehilangan Pangan Sayuran dan Buah) bersama Asosiasi Petani Pepaya Balikpapan yang berlokasi di ABAS Farm, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara. Program ini berfokus pada pengenalan dan penerapan teknologi bio-coating berbasis pati singkong sebagai solusi pascapanen yang sederhana, aman, dan mudah diterapkan oleh petani.
Bio-coating merupakan lapisan tipis yang diaplikasikan pada permukaan buah untuk membantu memperlambat laju respirasi dan mengurangi kehilangan kadar air selama penyimpanan. Dengan adanya lapisan pelindung tersebut, proses pematangan dapat berlangsung lebih lambat sehingga kualitas produk dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama. Teknologi ini juga berpotensi mengurangi risiko kerusakan selama proses distribusi menuju pasar maupun konsumen akhir. Kegiatan diawali dengan observasi lapangan dan diskusi bersama mitra untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam proses penanganan hasil panen. Hasil observasi menunjukkan bahwa kerusakan pasca panen masih menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi kualitas produk hortikultura. Oleh karena itu, diperlukan teknologi yang dapat diterapkan secara praktis tanpa memerlukan peralatan yang kompleks maupun biaya yang tinggi.
Setelah tahap identifikasi selesai, tim melaksanakan kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya penanganan pascapanen dan pengurangan kehilangan pangan. Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai penyebab kerusakan buah setelah panen, dampaknya terhadap nilai ekonomi produk, serta manfaat penerapan teknologi bio-coating dalam mempertahankan kualitas hasil panen.

Gambar 3. Sosialisasi teknologi BIOKASA kepada anggota Asosiasi Petani Pepaya Balikpapan.
Tahap berikutnya adalah pelatihan pembuatan bio-coating berbasis pati singkong. Peserta diperkenalkan pada bahan-bahan yang digunakan, proses pembuatan larutan bio-coating, serta teknik aplikasi yang dapat diterapkan pada komoditas hortikultura. Seluruh tahapan dirancang agar mudah direplikasi oleh petani menggunakan peralatan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar.

Gambar 4. Aplikasi BIOKASA pada komoditas hortikultura.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti demonstrasi dan praktik langsung penggunaan BIOKASA pada buah pepaya dan tomat. Melalui kegiatan ini, petani dapat memahami teknik pelapisan yang tepat serta melihat secara langsung proses penerapan teknologi pada hasil panen mereka. Pendekatan praktik langsung dilakukan agar peserta memperoleh pengalaman yang lebih aplikatif dan mudah menerapkan teknologi tersebut secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Sebagai bagian dari evaluasi program, tim juga melakukan monitoring terhadap pemahaman peserta dan penerapan teknologi yang telah diberikan. Monitoring dilakukan melalui diskusi, observasi lapangan, serta pengumpulan umpan balik dari mitra. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memiliki antusiasme yang tinggi terhadap teknologi BIOKASA karena dinilai mudah diterapkan dan memiliki potensi untuk membantu menjaga kualitas hasil panen selama distribusi
Melalui program BIOKASA, diharapkan petani dapat memiliki alternatif teknologi pascapanen yang sederhana, ekonomis, dan berkelanjutan untuk mengurangi kehilangan pangan serta meningkatkan kualitas produk hortikultura. Kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penguatan sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Gambar 5. Foto bersama tim pelaksana dan mitra kegiatan.