Desa Budaya Pampang di Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, merupakan salah satu desa wisata unggulan yang dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Dayak Kenyah, dan menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) pada platform BIMA tahun 2026. Desa tersebut menyimpan berbagai kekayaan budaya yang khas, mulai dari seni tari tradisional, musik etnik, arsitektur Lamin Adat, dan tradisi ritual budaya hingga produk kesenian yang terbuat dari ukiran kayu dan manik manik. Kekayaan tersebut menjadikan Pampang destinasi wisata budaya yang strategis, tidak hanya sebagai pelestarian warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat lokal. Di desa ini, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Budaya Pampang mengelola kunjungan wisata dan pertunjukan budaya, sementara para Kelompok UMKM Lamin Pamung Tawai melengkapi pengalaman kunjungan para wisatawan melalui ukiran kayu dan manik manik yang dijual sebagai suvenir.
Meski memiliki potensi yang besar, aktivitas ekonomi wisata di Pampang belum memberikan dampak yang optimal bagi masyarakatnya. Kunjungan wisatawan hanya berlangsung singkat dikarenakan pertunjukan budaya hanya berlangsung selama satu hari (one day visit) yaitu setiap hari minggu, sehingga lama tinggal wisatawan relatif rendah. Kondisi ini mendorong gagasan pengembangan Ecolodge Desa Pampang, yaitu sebuah akomodasi yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi memberikan pengalaman serta edukasi bagi para wisatawan dalam melestarikan budaya etnik Dayak Kenyah dan menjadi penguatan ekonomi kreatif masyarakat. Dengan adanya ecolodge, wisatawan diharapkan tinggal lebih lama dan terlibat langsung dalam kegiatan budaya.
Berdasarkan kondisi tersebut, pada tahun 2026 melalui Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dengan tema “Ecolodge Desa Pampang sebagai Model Ekowisata Berbasis Budaya Dayak Kenyah di Samarinda” diarahkan pada penguatan kapasitas dua mitra. Pokdarwis diperkuat dalam perencanaan usaha, pembukuan, dan pelayanan wisata, sedangkan Kelompok UMKM Lamin Pamung Tawai didorong mengembangkan produk yang lebih beragam dan bernilai jual melalui pemanfaatan teknologi 3D printing dan pelatihan peningkatan omzet.

Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Pokdarwis dalam mengelola usaha dan layanan wisata, serta meningkatkan keragaman dan nilai jual produk kerajinan UMKM. Kegiatan ini diawali dengan observasi kebutuhan UMKM dan identifikasi unsur budaya Dayak Kenyah yang layak dikembangkan menjadi produk dengan melihat berbagai aspek. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Rumah Adat Lamin Desa Budaya Pampang, dilaksanakan pelatihan Business Plan, Pembukuan Usaha, dan Pengembangan Pariwisata. Materinya meliputi penyusunan business plan ecolodge, pencatatan keuangan sederhana, serta SOP pelayanan dan paket wisata. Selanjutnya, pada 17 Agustus 2026, diselenggarakan pelatihan diversifikasi produk dan 3D printing serta pelatihan peningkatan omzet UMKM. Mitra juga menerima mesin 3D printer, yang bekerja dengan melelehkan filamen dan membentuknya lapis demi lapis berdasarkan desain digital. Dari kegiatan ini dikembangkan rancangan gantungan kunci berbentuk burung enggang, harimau, dan katak, serta miniatur penari Dayak Kenyah, burung enggang, sape, dan patung-patung manusia Dayak, yang dikemas dengan identitas visual “Pampang Culture Lab”.
