Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa perubahan terhadap pola mobilitas masyarakat di Kalimantan Timur, khususnya di Kota Balikpapan yang berperan sebagai kota penyangga sekaligus gerbang utama menuju kawasan IKN. Meningkatnya aktivitas pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, dan logistik diperkirakan akan mendorong pertumbuhan pergerakan orang dan barang antara Balikpapan dan IKN. Apabila peningkatan kebutuhan perjalanan tersebut tidak diimbangi dengan penyediaan transportasi umum yang memadai, penggunaan kendaraan pribadi berpotensi terus meningkat sehingga memicu kemacetan lalu lintas, konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi, waktu tempuh yang semakin panjang, serta peningkatan emisi gas buang. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sistem transportasi umum yang mampu menyediakan layanan perjalanan yang aman, nyaman, mudah diakses, dan terintegrasi. Berdasarkan kebutuhan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik kebutuhan perjalanan masyarakat serta menyusun alternatif jaringan angkutan umum yang dapat meningkatkan konektivitas antara Kota Balikpapan dan Ibu Kota Nusantara.

Penelitian menggunakan pendekatan Four Step Model, yaitu Trip Generation, Trip Distribution, Mode Choice, dan Trip Assignment. Data primer diperoleh melalui Home Interview Survey (HIS) pada empat kecamatan di Kota Balikpapan, sedangkan data sekunder meliputi jaringan jalan, tata guna lahan, data kependudukan, dan kondisi transportasi eksisting. Seluruh data kemudian dimodelkan menggunakan perangkat lunak PTV VISUM untuk mengevaluasi kondisi jaringan transportasi dan menyusun alternatif rute angkutan umum berdasarkan karakteristik permintaan perjalanan masyarakat.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pola perjalanan masyarakat di Kota Balikpapan belum tersebar secara merata. Perbedaan karakteristik bangkitan dan tarikan perjalanan pada setiap zona menunjukkan adanya konsentrasi aktivitas di beberapa kawasan tertentu. Bangkitan perjalanan tertinggi berada pada Zona 25 Pusat dengan jumlah 65 perjalanan, sedangkan tarikan perjalanan terbesar terdapat pada Zona 08 Damai Bahagia sebanyak 85 perjalanan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kedua zona berperan sebagai pusat aktivitas yang menghasilkan dan menarik pergerakan masyarakat dalam jumlah relatif lebih besar dibandingkan zona lainnya. Informasi mengenai pola bangkitan dan tarikan perjalanan ini menjadi dasar dalam mengidentifikasi koridor pelayanan transportasi umum yang memiliki potensi permintaan tertinggi.

Selain menganalisis pola perjalanan, penelitian ini juga mengevaluasi karakteristik pemilihan moda transportasi masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa 83,87% perjalanan masih dilakukan menggunakan kendaraan pribadi, sedangkan penggunaan transportasi umum hanya mencapai 8,77%. Dominasi kendaraan pribadi menunjukkan bahwa layanan transportasi umum yang tersedia saat ini belum mampu menjadi pilihan utama masyarakat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan cakupan layanan, aksesibilitas menuju halte, waktu tempuh, serta kenyamanan perjalanan yang masih kalah dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi.
Berdasarkan hasil pemodelan menggunakan PTV VISUM, penelitian menghasilkan jaringan transportasi umum yang menghubungkan Terminal Batu Ampar dengan Rest Area IKN melalui dua alternatif koridor. Penyusunan jaringan tidak hanya mempertimbangkan panjang rute, tetapi juga pola perjalanan masyarakat, aksesibilitas, simpul transportasi, pusat kegiatan, serta potensi pelayanan pada kawasan yang memiliki bangkitan dan tarikan perjalanan tinggi. Selain itu, penelitian juga menghasilkan rekomendasi lokasi halte untuk meningkatkan keterjangkauan layanan angkutan umum.

Hasil evaluasi menghasilkan dua alternatif rute yang memiliki karakteristik pelayanan berbeda. Rute Usulan 1 memiliki panjang sekitar 88,9 km melalui koridor non-tol Samboja–Sepaku, sedangkan Rute Usulan 2 memiliki panjang sekitar 80,7 km melalui Jalan Tol Balikpapan–IKN dan Bandara VVIP IKN. Kedua alternatif tersebut dirancang untuk memberikan pilihan pelayanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional maupun karakteristik permintaan perjalanan masyarakat pada masa mendatang.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Four Step Model yang dipadukan dengan PTV VISUM tidak hanya menghasilkan alternatif rute angkutan umum, tetapi juga menyediakan dasar analisis yang kuat dalam menentukan koridor pelayanan berdasarkan kebutuhan perjalanan masyarakat. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi Pemerintah Kota Balikpapan, Dinas Perhubungan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan layanan angkutan umum sebagai sistem transportasi umum yang mendukung konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara. Dengan tersedianya jaringan transportasi umum yang lebih terencana, masyarakat diharapkan memperoleh pilihan moda yang lebih efisien, aman, dan nyaman, sekaligus mendukung terwujudnya sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan.