Air asam tambang (AAT) merupakan salah satu permasalahan lingkungan pada kegiatan pertambangan karena memiliki karakteristik utama berupa kondisi asam dan dapat membawa berbagai zat terlarut dari batuan. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk memperbaiki kualitas AAT adalah filtrasi menggunakan karbon aktif. Dalam penelitian ini, bahan baku karbon aktif diarahkan pada pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai material adsorben yang tersedia melimpah dan berpotensi memiliki struktur karbon yang sesuai untuk proses pengolahan air.
Pada tahap penelitian pendahuluan dilakukan kajian terhadap tiga jenis limbah kelapa sawit, yaitu tandan kosong kelapa sawit (TKKS), pelepah kelapa sawit, dan cangkang kelapa sawit. Ketiga material tersebut diamati secara fisik dan morfologi untuk menilai kesesuaiannya sebagai bahan baku karbon aktif. Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan tersebut, cangkang kelapa sawit dipilih sebagai bahan baku yang digunakan pada tahap penelitian utama. Cangkang kemudian dikarbonisasi dan diaktivasi secara kimia menggunakan KOH untuk menghasilkan karbon aktif yang selanjutnya digunakan sebagai media filtrasi AAT. Pengujian filtrasi dilakukan dengan memvariasikan dua faktor operasi, yaitu ketinggian media karbon aktif sebesar 6,4; 13; dan 19,3 cm serta laju alir sebesar 2, 3, dan 4 L/menit.

Hasil Pengolahan
Hasil pengujian pada Outlet 1 menunjukkan bahwa filtrasi menggunakan karbon aktif teraktivasi KOH mampu meningkatkan pH sekaligus menurunkan konsentrasi Fe dan Mn. Nilai pH setelah filtrasi berada pada rentang 6,58–7,76, dengan nilai tertinggi sebesar 7,76 pada kombinasi ketinggian media 19,3 cm dan laju alir 2 L/menit. Pada kondisi yang sama, konsentrasi Fe menurun dari 18,208 mg/L menjadi 2,188 mg/L dengan efisiensi penyisihan 87,98%, sedangkan Mn menurun dari 21,25 mg/L menjadi 3,14 mg/L dengan efisiensi penyisihan 85,19%.
Peningkatan pH dipengaruhi oleh karakter basa media setelah aktivasi KOH, sedangkan ketinggian media yang lebih besar dan laju alir yang lebih rendah memberikan waktu kontak yang lebih baik antara air dan media filtrasi. Secara umum, hasil tersebut menunjukkan bahwa tahap filtrasi karbon aktif pada Outlet 1 mampu memperbaiki kualitas air melalui peningkatan pH serta penurunan kandungan Fe dan Mn sebelum pengolahan lanjutan.
Kesimpulan
Penelitian pendahuluan terhadap TKKS, pelepah kelapa sawit, dan cangkang kelapa sawit mengarahkan pemilihan cangkang kelapa sawit sebagai bahan baku karbon aktif berdasarkan pengamatan fisik dan morfologi. Pada tahap filtrasi, nilai pH Outlet 1 berada pada rentang 6,58–7,76, dengan kondisi terbaik pada ketinggian media 19,3 cm dan laju alir 2 L/menit. Pada kondisi tersebut, tahap FPAC juga menurunkan Fe dari 18,208 menjadi 2,188 mg/L (87,98%) dan Mn dari 21,249 menjadi 3,146 mg/L (85,19%). Secara umum, hasil menunjukkan potensi filtrasi karbon aktif berbasis limbah kelapa sawit dalam memperbaiki kualitas air asam tambang.
