Detail Penelitian


Menata Sampah Plastik di Sekitar IKN: Dari Masalah Menjadi Peluang Ekonomi Sirkular

Tahun 2026 Ketua: Dr. Eng. Muhammad Ma'arij Harfadli, S.T., M.T. Skema Riset Terapan
Menata Sampah Plastik di Sekitar IKN: Dari Masalah Menjadi Peluang Ekonomi Sirkular

 

Balikpapan – Institut Teknologi Kalimantan melalui Dosen Teknik Lingkungan melakukan penelitian Pemodelan aliran sampah plastik dan emisi karbon dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan di kawasan sekitar IKN. Penelitian ini lolos pendanaan Penelitian Internal Institut Teknologi Kalimantan dengan skema  Riset Pendukung IKN (RPI) tahun 2026. Penelitian ini dilaksanakan oleh tim peneliti yang terdiri atas Dr. Eng. Muhammad Maarij Harfadli, S.T., M.T. sebagai ketua, Marita Wulandari, S.T., M.T., Ph.D. dan Basransyah, M.T. sebagai anggota. Penelitia ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan diantaranya Mutiara Eky, Sabina Danuwijaya dan Moch Revangga.

 

Perkembangan IKN membawa peluang besar bagi Kalimantan Timur, tetapi juga menghadirkan tantangan baru, salah satunya adalah pengelolaan sampah plastik. Persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah armada pengangkutan, tetapi membutuhkan fasilitas pengolahan, keterlibatan masyarakat dan sektor informal, serta tata kelola yang baik.

 

Kajian di tiga wilayah sekitar IKN, yaitu Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kutai Kartanegara (Kukar), menunjukkan perbedaan kondisi pengelolaan sampah plastik. Balikpapan menghasilkan sampah plastik terbesar, sekitar 115,8 ton per hari, disusul Kukar 41,79 ton per hari dan PPU 5,58 ton per hari. Jenis plastik yang paling banyak ditemukan adalah PET, PP, dan LDPE. Dari sisi pengelolaan, Balikpapan memiliki sistem yang relatif lebih terorganisasi, meskipun masih bergantung pada TPA. PPU masih berfokus pada pengangkutan dengan kapasitas pengolahan yang terbatas, sedangkan Kukar sangat bergantung pada sektor informal dan memiliki sampah plastik tidak terkelola paling tinggi.

 

Kesiapan tata kelola juga berbeda. Balikpapan memperoleh skor 3,76 (tinggi), PPU 2,84 (sedang), dan Kukar 2,32 (rendah). Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi yang berbeda di setiap wilayah. Ke depan, Balikpapan dapat dikembangkan sebagai pusat pemulihan dan pasar material daur ulang, PPU sebagai koridor pengangkutan dan pra-pengolahan, sementara Kukar sebagai pusat pengumpulan dan agregasi sampah secara terdesentralisasi.

 

Dengan kerja sama antardaerah dan pendekatan ekonomi sirkular, sampah plastik tidak harus berakhir sebagai beban di TPA. Sampah dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai sekaligus mendukung terwujudnya kawasan sekitar IKN yang bersih, berkelanjutan, dan memiliki nilai ekonomi. Penelitian ini dapat dijadikan dasar ilmiah bagi pengembangan sistem pengelolaan sampah plastik yang terintegrasi, berbasis ekonomi sirkular, sesuai karakteristik masing-masing wilayah, serta mendukung keberlanjutan kawasan sekitar IKN.

 

Tim Peneliti

  1. Dr. Eng. Muhammad Ma'arij Harfadli, S.T., M.T.
  2. Marita Wulandari, S.T., M.T., Ph.D
  3. Basransyah, M.T.

Manfaat Penelitian

Memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan sistem pengelolaan sampah plastik yang terintegrasi, berbasis ekonomi sirkular, sesuai karakteristik masing-masing wilayah, serta mendukung keberlanjutan kawasan sekitar IKN