Keselamatan menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan di lingkungan perguruan tinggi. Tidak hanya berkaitan dengan tersedianya fasilitas penunjang, keselamatan juga memerlukan kesadaran dan pengetahuan dari setiap individu yang menggunakan fasilitas kampus. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengembangkan sebuah inovasi berupa video safety induction yang ditujukan bagi pengguna Auditorium Gedung A ITK. Inovasi ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian tahun 2026 yang berfokus pada penguatan penyampaian informasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui pemanfaatan teknologi audiovisual.
Auditorium Gedung A merupakan salah satu ruang pertemuan di ITK yang berada di lantai tiga dan kerap menjadi tempat berlangsungnya berbagai agenda, mulai dari seminar, pertemuan akademik, kegiatan organisasi kemahasiswaan, hingga acara yang melibatkan peserta dari luar kampus. Setiap kegiatan menghadirkan pengunjung dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang berbeda dalam menghadapi situasi darurat. Oleh karena itu, pengenalan terhadap lingkungan gedung dan informasi keselamatan menjadi hal yang perlu diperhatikan agar peserta dapat mengikuti kegiatan dengan rasa aman dan memiliki gambaran mengenai tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan darurat.
Sebelumnya, informasi keselamatan di Auditorium Gedung A disampaikan secara langsung melalui pengarahan lisan. Meskipun dapat memberikan penjelasan kepada peserta, cara tersebut memiliki keterbatasan karena materi yang disampaikan dapat berbeda bergantung pada petugas atau pihak yang memberikan pengarahan. Tim peneliti kemudian melihat peluang untuk menghadirkan media yang mampu menyampaikan informasi secara lebih seragam, menarik, dan dapat digunakan kembali dalam berbagai kesempatan. Video safety induction dipilih sebagai alternatif karena dapat memperlihatkan secara langsung kondisi lingkungan gedung serta memberikan contoh tindakan keselamatan yang mudah diikuti.
Kegiatan penelitian ini melibatkan kolaborasi dosen dan mahasiswa ITK yang dilaksanakan pada Juni hingga September 2026. Proses pengembangannya diawali dengan peninjauan langsung terhadap area auditorium dan fasilitas pendukung di sekitarnya. Tim mengamati kondisi ruangan, akses keluar, tangga, serta keberadaan sarana penanggulangan keadaan darurat. Peninjauan tersebut menjadi langkah penting agar informasi yang disampaikan dalam video sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga pengguna tidak hanya memperoleh pengetahuan umum mengenai keselamatan, tetapi juga mengenali lingkungan yang akan mereka gunakan selama berkegiatan.
Melalui pengamatan lapangan, tim memberikan perhatian pada sejumlah situasi yang berpotensi mengganggu keselamatan pengguna. Penggunaan berbagai peralatan elektronik, misalnya, perlu diantisipasi karena berkaitan dengan potensi gangguan kelistrikan dan kebakaran. Selain itu, banyaknya peserta dalam satu kegiatan dapat memengaruhi kelancaran pergerakan menuju pintu keluar ketika terjadi keadaan darurat. Kondisi seperti gempa bumi juga memerlukan pemahaman mengenai langkah perlindungan diri sebelum melakukan evakuasi. Berbagai pertimbangan tersebut digunakan untuk menentukan informasi keselamatan yang paling relevan bagi pengguna Auditorium Gedung A.
Setelah memperoleh gambaran mengenai kebutuhan di lapangan, tim mulai merancang konsep tayangan yang menggabungkan penjelasan, pengambilan gambar langsung, dan demonstrasi tindakan keselamatan. Penyusunan materi dilakukan dengan mempertimbangkan urutan informasi yang akan diterima penonton, mulai dari pengenalan area gedung hingga panduan menghadapi situasi darurat. Selanjutnya, kegiatan produksi dilaksanakan melalui proses pengambilan gambar, penyuntingan, penyesuaian materi, dan penyempurnaan tampilan video. Setiap bagian dirancang agar pesan yang disampaikan tidak hanya informatif, tetapi juga relevan dengan pengalaman pengunjung saat berada di auditorium.
Salah satu bagian penting dalam video ini adalah pengenalan fasilitas keselamatan yang tersedia di lingkungan Gedung A, termasuk Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hydrant, akses evakuasi, dan titik kumpul. Penonton juga diperkenalkan pada tindakan yang perlu diperhatikan ketika menghadapi kebakaran maupun gempa bumi. Melalui ilustrasi dan demonstrasi, penggunaan APAR dijelaskan menggunakan prinsip PASS, yaitu Pull, Aim, Squeeze, dan Sweep. Penyajian tersebut bertujuan memberikan gambaran awal mengenai cara penggunaan alat pemadam sekaligus memperkenalkan pentingnya mengikuti prosedur keselamatan dan arahan petugas saat terjadi keadaan darurat.
Menariknya, pengembangan video ini juga memberikan perhatian khusus pada aksesibilitas informasi. Tim menghadirkan penerjemah bahasa isyarat yang ditampilkan bersama narasi keselamatan sepanjang tayangan. Kehadiran fitur ini menjadi salah satu nilai tambah karena informasi mengenai tindakan darurat perlu dapat dijangkau oleh pengguna dengan kebutuhan komunikasi yang beragam, termasuk penyandang disabilitas pendengaran. Melalui pendekatan tersebut, tim berupaya menunjukkan bahwa pengembangan fasilitas dan layanan keselamatan di perguruan tinggi juga perlu mempertimbangkan prinsip inklusivitas.
Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah tayangan audiovisual, penelitian ini mencerminkan kontribusi sivitas akademika ITK dalam menghadirkan solusi yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari di lingkungan kampus. Kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam pengembangan video safety induction menunjukkan bahwa penerapan keilmuan K3 dapat diwujudkan melalui inovasi sederhana yang memiliki manfaat praktis bagi banyak orang. Keberadaan media ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap keselamatan, sekaligus membuka peluang pengembangan informasi keselamatan serupa pada berbagai fasilitas lainnya di Institut Teknologi Kalimantan.