Detail Penelitian


Biodiesel Minyak Biji Kapuk dan Cyclohexane, Inovasi Dosen dan Mahasiswa ITK untuk Alternatif Bahan Bakar Mesin Diesel

Tahun 2026 Ketua: Ir. Suardi, ST., MT | Dr. Eng. Faisal Mahmuddin, ST., M. Inf., Tech., M. Eng | Ir. Muhammad Uswah Pawara, ST., M. Sus Sci | Ir. Alamsyah, ST., M.T Skema Riset Terapan
Biodiesel Minyak Biji Kapuk dan Cyclohexane, Inovasi Dosen dan Mahasiswa ITK untuk Alternatif Bahan Bakar Mesin Diesel

Upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil terus dilakukan oleh para peneliti di Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Salah satunya melalui penelitian pengembangan biodiesel berbahan baku minyak biji kapuk (Ceiba pentandra) yang dipadukan dengan cyclohexane sebagai aditif untuk meningkatkan performa mesin diesel kapal.

 

Penelitian tersebut dipimpin oleh Ir. Suardi, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Perkapalan ITK, bersama tim mahasiswa. Penelitian ini berangkat dari potensi besar biji kapuk yang selama ini masih belum dimanfaatkan secara optimal, padahal tersedia melimpah di Indonesia dan tidak termasuk dalam kategori bahan pangan sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.

 

"Indonesia memiliki sumber daya minyak nabati nonpangan yang sangat besar, salah satunya minyak biji kapuk. Kandungan minyaknya mencapai sekitar 15–25 persen dari berat kering biji, sehingga sangat potensial dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan," ujar Suardi.

 

Menurutnya, tantangan utama biodiesel minyak biji kapuk adalah karakteristik viskositasnya yang relatif tinggi, yakni sekitar 4,8–5,2 mm²/s, sehingga berpotensi memengaruhi proses atomisasi dan pembakaran di dalam mesin diesel. Untuk mengatasi kendala tersebut, tim peneliti menambahkan cyclohexane sebagai bahan aditif yang diharapkan mampu memperbaiki karakteristik pembakaran sekaligus meningkatkan performa mesin.

 

Dalam penelitian ini, biodiesel diproduksi melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi, kemudian dicampurkan dengan Dexlite sehingga diperoleh dua variasi bahan bakar, yaitu B50 (50% biodiesel dan 50% Dexlite) serta B60 (60% biodiesel dan 40% Dexlite). Pada setiap campuran ditambahkan 20 ml cyclohexane sebelum dilakukan pengujian menggunakan mesin diesel Yanmar TF75ME berjenis empat langkah (4-stroke) dengan sistem injeksi langsung (direct injection).

 

Pengujian dilakukan secara komprehensif dengan mengukur berbagai parameter kualitas bahan bakar, meliputi densitas, viskositas, indeks cetane, kadar sulfur, dan nilai kalor, serta parameter performa mesin berupa torsi, Specific Fuel Consumption (SFC), dan efisiensi termal pada berbagai variasi putaran mesin.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran B60 memberikan performa yang lebih baik dibandingkan B50. Pada putaran 1.600 RPM dan 1.900 RPM, campuran ini mampu menghasilkan torsi yang lebih tinggi, konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) yang lebih rendah pada beban tinggi, serta efisiensi termal yang lebih baik pada beban menengah hingga tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan proporsi biodiesel minyak biji kapuk yang dipadukan dengan cyclohexane masih mampu memberikan kinerja mesin yang kompetitif bahkan lebih baik dibandingkan campuran dengan kadar biodiesel yang lebih rendah.

 

"Temuan ini menunjukkan bahwa minyak biji kapuk memiliki peluang besar sebagai bahan bakar alternatif untuk mesin diesel kapal. Selain berasal dari sumber daya lokal yang terbarukan, pemanfaatannya juga memberikan nilai tambah bagi komoditas yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal," jelas Suardi.

 

Lebih lanjut, penelitian ini diharapkan dapat mendukung program transisi energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan berbasis potensi lokal. Pengembangan biodiesel nonpangan seperti minyak biji kapuk juga dinilai lebih berkelanjutan karena tidak mengganggu ketersediaan bahan pangan dan berpotensi mengurangi emisi dari sektor transportasi, khususnya transportasi laut.

 

Melalui penelitian ini, dosen dan mahasiswa Teknik Perkapalan ITK kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata terhadap tantangan ketahanan energi nasional. Ke depan, penelitian akan terus dikembangkan menuju pemanfaatan biodiesel dengan kandungan yang lebih tinggi serta implementasinya pada kapal-kapal nelayan dan kapal kecil di Indonesia sebagai bagian dari upaya mewujudkan sistem transportasi laut yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Tim Peneliti

  1. Ir. Suardi, ST., MT (Teknik Perkapalan / JTK)
  2. Dr. Eng. Faisal Mahmuddin, ST., M. Inf., Tech., M. Eng (Departemen Teknik Sistem Perkapalan / Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin)
  3. Ir. Muhammad Uswah Pawara, ST., M. Sus Sci (Teknik Perkapalan / JTK)
  4. Ir. Alamsyah, ST., M.T (Teknik Perkapalan / JTK)

Manfaat Penelitian

1. Mendukung Energi Terbarukan
Mengembangkan biodiesel berbasis minyak biji kapuk sebagai bahan bakar alternatif nonpangan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

2. Meningkatkan Kinerja Mesin Diesel
Penambahan cyclohexane berpotensi meningkatkan kualitas pembakaran, menghasilkan torsi yang lebih tinggi, konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) yang lebih rendah, dan efisiensi termal yang lebih baik.

3. Meningkatkan Nilai Tambah Sumber Daya Lokal
Mendorong pemanfaatan minyak biji kapuk yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk energi bernilai ekonomi.

4. Kontribusi terhadap Pengembangan Biodiesel
Menjadi referensi ilmiah dalam pengembangan formulasi biodiesel dengan bahan aditif untuk meningkatkan karakteristik fisik dan performa bahan bakar.

5. Mendukung Transisi Energi Berkelanjutan
Memberikan alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan serta mendukung pengurangan emisi dan pengembangan teknologi energi bersih di Indonesia.